How Fast Am I?

Oh, yeah! Interesting title, right? But please, don’t imagine that I’m genetically related with that amazing Superman. Hahahaha! Because I am not and don’t want to be one of his relative.

Actually this is not the first time I catched something falling. Actually I want to forget that I did it several times , since I couldn’t even remember how many times.

The latest was yesterday evening, while my hostfamily and I were chatting after dinner. It happened because Noah, their youngest son, grabed a standing lamp in the corner of the dining room, just half of meter on my left side. My hostmother, Jeanette, put Noah on the floor near the lamp, because he acted really like a baby! 🙂 When she fed him very tiny chopped spaghetti, suddenly he banged his bowl. It was totally chaos! Tiny spaghettis everywhere! My hostmother and hostfather instead of being angry, but laughing. We were silence for a while and then smiling together. Baby. Now Noah shows that he is not that kind of funny baby anymore. 🙂 After that Jeanette put Noah on the floor and said, „That’s it! You’re done!“ I still watched Noah wants to crawl to his palace in the living room. It’s a soft carpet for babies to play with many toys on it. I thought he’s going to crawl to his palace. But he wasn’t! He try to grab the standing lamp in the corner of the room right behind Jeanette. Once again, I thought he was trying to stand up with his right hand holding on the lamp and the left hand try to reach the wall. It wasn’t. He gave up and try to grab the lamp and drop it! Somehow I got that „thing“ and it was right. When I was still talking with Jeanette and my hostfather, I saw Noah grabbed the lamp and almost dropped on to Jeanette’s head. I didn’t know what happened and how to explain it, but I stand up as fast as I can and my right hand catched the top of the lamp and hold it. Because of trying to catch the lamp so it wouldn’t fall on to Jeanette’s head , I didn’t realized that my right thigh hit the edge of Jeanette’s chair. I feel the pain about a few minutes after that. And it was really hurt. Then my hostfather said, „Good reflex!“. I just can give painful smile. 🙂 I don’t care how good my reflex motion. I just care about your son. And Noah crawled again and acted like nothing happened because of him. Babies are the same! 🙂 Pooing, peeing, eating, drinking, playing, sleeping, smiling, laughing and crying. That’s all.

Image
Noah always try to touch Molly’s fur. Sorry, I mean grabbing her fur.
Image
Don’t Shoot Me!
Image
The first time I took his photo while sleeping

Often I feel uncomfortable with what happened and even with myself. Sometimes I think maybe I am so aware of what happens around me and „know“ what will happen before it happened. As far as I can remember, I catched falling lens cap from my friend professional digital camera when I was on the street photo hunting with him and 2 other friends. The other time when I sat in digital camera store in a mall in my hometown. My friend was sloppy when he opened the lens cap and finally fell. But before it touched the floor, my left hand catched it. He said,“What an amazing move, Dwi!“. I just smiled. I really didn’t know what happened that moment. I didn’t know that lens caps going to fall. The same thing happened when I blocked a ball with my right hand that almost hit my face outside of the court. Once, when I was in highschool, I grabbed my friend’s uniform and pulled her back from an accident in front of our school gate. The car didn’t hit her but the car’s left front tire rolled on my left shoe. She was angry with me because I grabbed her shirt. I told her that the car just passed us by, was almost hit her if I didn’t do that.

I still didn’t understand. After something like that happened, I always felt exhausted. It was like all my energy fly away. Or am I just „too much“? Is someone out there can help me to explain about this?

Hot Pants di Acara Berbuka Puasa

    Saya tidak tahu harus memulai darimana. Saya inginnya menanyakan kepadanya, „Pernah bersekolah tidak, sih?“. Tapi saya urungkan, karena saya selalu ingin tetap berpikiran terbuka, bahwa tidak semua orang yang pernah mengenyam pendidikan akan berpikir dan bertindak layaknya seseorang yang pernah mengenyam pendidikan. Tidak adil baginya, jika saya menilainya dari segi pendidikan. Tapi, lagi dan lagi, pendidikan, pengalaman dan hasil pengamatan saya terhadap lingkungan di sekitar saya membuktikan apa yang sudah saya perkirakan akan terjadi. Pendidikan memang penting demi memberi kebaikan dan pelajaran penting bagi kehidupan setiap manusia di bumi. (Berat juga kata-kata saya, ya ) Semoga sesuatu terjadi pada dirinya dan memberikan hikmah seumur hidupnya.  

…. 

  Jadi, ini sepenggal percakapan saya dengan salah seorang teman baru, putri Minang, dari Jerman. Itu pertama kalinya saya melihat wajahnya langsung dan mengobrol dengannya. Tapi, awal percakapan itu sepertinya meninggalkan bekas yang akan tetap saya ingat sampai kapanpun. Suatu persepsi dari seseorang yang lebih muda dari saya dan seseorang yang straight to the point. 

    Pagi itu adalah pagi yang saya tunggu. Meski puasa saya bolong-bolong, saya tetap saja bersemangat mengikuti shalat Ied di KBRI Denmark – Hellerup. Saya yang bergegas jalan kaki dari rumah, disambung naik kereta api, kemudian jalan kaki sambil berlari kecil, hampir saja telat mengikuti shalat berjamaah di hari istimewa itu. Tapi ternyata saya bertemu teman di perjalanan menuju KBRI. Anto, yang bersepeda menuju KBRI, langsung saya panggil dan akhirnya sambil mengobrol, kami tiba di lokasi tepat waktu. Maksud saya di sini tepat waktu, memang tepat waktu hanya beberapa menit sebelum shalat dimulai.  

    Kemudian, selesai shalat, bersalaman, cipika cipiki, foto-foto, tegur sapa dengan muslim yang belum saya kenal. Nah, sebelum shalat dimulai, tidak jauh dari tempat saya shalat, saya meilhat seseorang yang wajahnya familiar di ingatan saya. Saya memang belum pernah jumpa dia secara langsung, apalagi mengobrol. Tapi dalam hati saya sangat berniat untuk bicara dengannya setelah shalat Ied. 

   Setelah shalat akhirnya saya sapa dia duluan. „Wira, ya? Temannya Devi kan, ya?“. Dari situ obrolan berlanjut perkenalan, kemudian berfoto bersama dan berakhir di ruang makan KBRI. Menu hari itu opor ayam, sambal goreng hati, ketupat, sayur lodeh, sambal dan kerupuk. 

 

 

    Kami menyantap isi piring di halaman samping KBRI. Sambil berjemur di bawah matahari. Maklum, meski berbaju non bikini, tapi sinar matahari memang anugerah yang harus disyukuri jika berada di negara 4 musim dan minim sinarnya dalam setahun. Kembali ke Wira. Kami duduk berdua saja. Awal obrolan inilah yang membuat saya sempat syok. Tapi saya berusaha tetap tenang dan berusaha menjaga hati, pikiran, mulut dan telinga. Ya Allah, memang berat terasa jika banyak pertimbangan untuk berkata-kata, sambil mengingatkan diri sendiri untuk tetap mengingat-Mu. 

   Wira memulai obrolan sambil menyendok ketupat dan opor ayamnya, „Kamu tahu tidak? Sampai itu ke Jerman berita tentang cewek yang katanya pakai hot pants ke acara berbuka puasa di sini.“ Maksudnya KBRI Denmark. Saya langsung tanya dia, „Kamu tahu darimana?“. „Ada yang bilang ke saya orang sini. Tak ada otaknya itu cewek. Masa‘ ke acara berbuka puasa pakai hot pants. Sudah ’ndak waras dia itu hah. Memang ’ndak langsung dia yang ditegur. Tapi si Ribka yang ditegur salah seorang staf KBRI, karena si staf itu melihat cewek itu datang dengan Ribka. Kan kasihan si Ribka-nya.“ Wira bicara dengan logat Minangnya yang menurut saya masih sangat kental. Hampir 4 tahun di Eropa ternyata tidak membuat logat asli Minangnya hilang ditelan globalisasi budaya. 

     Ah … saya langsung lemas mendengar apa yang dia katakan. Pastilah si kawan yang satu itu yang dimaksud Wira tak berotak. MasyaAllah. Betapa cepatnya berita tersebar di bumi ini, ya. Saya mengira berita tak sedap didengar itu hanya akan berputar seperti gasing hanya di lingkungan warga Indonesia di Kopenhagen saja. Tapi ternyata …. Seandainyalah dia tahu, bahwa saya mengenal siapa yang dibicarakannya, maka apa pendapatnya untuk selanjutnya, ya? Kemudian Wira mengatakan pendapatnya tentang perempuan Indonesia yang telah berubah penampilannya sejak berada di Eropa. Di bagian yang ini, saya hanya akan memberi pendapat, selama itu masih di belakang garis batas kewajaran di tempat kita berada dan menghormati satu sama lain, menurut saya sah-sah saja. 

 

 

   Akhirnya, mau tak mau, suka tak suka, dengan berat hati saya mengatakan kepadanya, „Wira, saya kenal siapa yang kamu maksud pakai hot pants itu. Orangnya ada di sini. Barusan dia lewat sini. Nanti kamu saya kenalkan. Jadi begini, waktu itu dia, Ribka dan saya baru pulang dari pantai sehabis berjemur. Kemudian Ribka mengajak untuk ke KBRI. Sekedar ingin datang saja dan beramah-tamah. Nah, pas duduk di ruang makan, kakak melihat sekilas, pak Dubes melihat ke arah dia dan memperhatikan pakaiannya dari bawah ke atas. Pak Dubes langsung bisa melihat, karena dia duduk di seberang kanan pak Dubes yang hanya 2 meter jaraknya. Pastilah bisa langsung dilihat hot pants-nya. Sebelum ke buka bersama itu kakak udah ingatkan, apa gak sebaiknya kami pulang saja. Tapi sudah kadung di dekat KBRI untuk balik badan dan pulang.“ (Ah, sebenarnya bisa saja langsung balik badan dan pulang kan, ya. ). Sebenarnya saya juga merasa malu malam itu. Meski pakaian saya jauh lebih sopan, tapi tetap saja saya merasa tidak nyaman, karena teman saya itu mengenakan hot pants. Kalau saya tidak peduli orangnya, maka saya akan berpikir masa bodoh, jika sesuatu terjadi yang memalukan dirinya saat itu, karena sudah saya peringatkan sebelum memasuki KBRI. Tapi, saya adalah tipe orang yang sayang teman, peduli, dan tipe „kekakakan“. Apalagi dia itu lebih muda 3 tahun dari saya. Ah, jangankan dengan yang lebih muda, dengan yang lebih tua dari saya dan yang baru saya kenal saja, saya terkesan kok „terlalu peduli“ dengan orang. 

   Ya jadi begitu. Sekarang, yang menjadi pertanyaan saya, apakah dia sudah tidak memiliki toleransi dalam berbudaya atau memang mencaplok budaya berpakaian ala Eropa mentah-mentah? Saya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya tidak mengatakan saya sempurna dalam berpakaian, tapi di luar kebebasan saya dalam berpakaian, saya masih tetap sangat memperhatikan apa yang saya kenakan dan dimana saya akan mengenakan pakaian itu. Sederhananya, saya tidak akan memakai bikini di acara makan malam. Itu hanya pengandaian, ya. Saya sendiri sih tidak akan memakai bikini sampai kapanpun. Rasa malu saya masih „ketimuran“.  Waktu teman-teman dan saya berjemur ke pantai, mereka bertanya, „Mana bikininya, Dwi?“. „Gak punya bikini.“ Itu saja yang keluar dari mulut saya.  Saya merasa nyaman hanya mengenakan hot pants dan tank top, atau summer dress sepaha. Paling minim saya akan pakai di kolam renang. Tetap saja, saya menggunakan pakaian renang normal untuk berenang, bukan bikini. 

   Kembali ke hot pants tadi. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiran. Apakah pendidikan yang pernah dienyam seseorang PASTI akan berpengaruh pada tingkah laku seseorang dalam menghadapi situasi yang terjadi di sekitarnya atau hanya akan memberi secuil kebaikan, termasuk dalam cara berpakaian? Maksud saya, apakah pendidikan hanya memberi sedikit nilai lebih dalam hidup seseorang? Banyak orang yang saya kenal tidak selesai sekolah, putus sekolah atau memang memutuskan tidak melanjutkan pendidikan sampai tamat, tapi mereka bertingkah laku lebih dari orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Kebanyakan, ya. Saya sering tidak setuju, jika ada yang berpendapat bahwa pendidikan tidak begitu penting dalam menggembleng sifat, karakter dan tingkah laku seseorang. Saya akan tetap berpendapat, pendidikan itu penting. Titik. Namun, tidak bisa dipungkiri, jika suatu saat kita menemui seseorang yang bertitel S3 ternyata memiliki cara pandang dan cara berpikir seperti orang yang sama sekali tidak pernah duduk di bangku sekolah. Oh, kalau yang ini sudah banyak yang saya temui dimanapun. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa mengatasinya dan tetap berusaha berpikiran terbuka dengan segala kemungkinan yang menyebabkannya jadi begitu.

   Nah, pada acara Halal bi Halal di Wisma Duta KBRI hari minggu siang lalu, kembali si teman yang dibicarakan Wira mengenakan pakaian yang menurutnya masih dalam batas kesopanan, dimana setelah saya meilhatnya sendiri, masih kurang sopan. Tapi karena ini yang kedua kalinya dia begitu, jadi mulai saat ini dan untuk seterusnya saya hanya akan berpendapat, dia membutuhkan waktu dan pengalaman hidup lebih banyak untuk membuatnya berpikir, „Cara berpakaianku tidak tepat dan tidak pada tempatnya.“ Saya hanya menyayangkan satu hal, dari segi umur menurut saya dia sudah tahu apa yang disebut „berpakaian yang sesuai pada waktu dan tempatnya“. Pada saat saya akan menggantungkan jaket hujan saya di ruang penitipan jaket, saya sempat berucap, „Duh, kenapa dia pakai baju itu di acara Halal bi Halal?“. Saya mengatakan begitu, karena ada teman saya juga yang baru datang dengan mengenakan pakaian yang lebih cocok dipakai ke acara resepsi pernikahan. Kemudian dia menjawab, „Emang gak sopan dimananya, kak?“. Hmmm. Saya jadi bingung harus menjawab apa. Ah, lebih baik saya diam saja saat itu. Biarlah, jika ada yang berkomentar lagi tentang pakaian yang mereka kenakan. Saya sudah malas untuk peduli. Angkat tangan mulai sekarang. Sama-sama sudah menjadi perempuan dewasa. 

Moving (Again)

I ask you only one question. Do you like, if you have to move to a new home more than once? Well, If you’re an adult, I think the answer would be variable. I bet, most of adults has the same answer. Which is according to jobs and family. At least that’s what I’ve seen and heard from my friends families and newlywed couples. But, especially from what happened in my own family. But, what about an answer from   8 years old daughter? I tell you now.

Since I was born into this crowded world, I can’t count anymore how many times my family has moved. Honestly, I felt so tired in my heart and mind. But, whatever I said, I was 100% sure, that my parent won’t hear my objections. The greatest disappointment of this moving thing was happened in 1996. I thought it was only another moving. Who knows, we might move again in the next couple years. It didn’t happened. It was the last moving. But this last moving has succesfully disappointing me. I was almost crying in the car. Because I have to leave 6 pots of my chilli plants, that grew 3 days before we moved. I’ve waited for weeks to see the seeds came up. Usually, I took the seeds from fresh chilli, which already being dried under the sunlight. That time I took from my father’s seeds pack. After a week since the first day I planted, It didn’t came up. Oops! Something went wrong?! But then my father said, it took more time, because it wasn’t fresh chilli seeds. Hehehe. I think, I have to learn „a lot“ more start that day. To learn more about plants and how to be more patient. 

Sadly, I have left all those 6 pots by the day we moved. I’ve asked my parents to take it with, but they’re just don’t understand how much it means to me. 

Well, in the new house I’ve lost all the passion to plant something. There’s no frontyard and backyard. Then, I was busy at school and homeworks. Only little time to hang out with my friends.

Image
A view from second floor window.

Now, I start to move to a new house. But this time not a real house. I have to move a new virtual house. From multiply to wordpress. Well, actually I really don’t like have to move all my writings and photo albums in this past 5 years. It’s a lot. LOL. Well, no time to complain but to move it all before 1. December 2012. I also have to decorate the interior and exterior design soon. So, I can feel homy, once again.

Sharing, sharing and sharing. Widely.

 

 

Ps: If you don’t understand about what I mean or my grammar, forgive me. I learn, speak, write and hear German language better than English. ^^

You Were Not Okay

        I remember. There were times, when you called me many times. You didn’t have to tell me what happened with you. But I knew in seconds, you were not okay. I knew, you’re just to shy to say that you need me at that moment. Just to looked into your eyes, holded your hands and smiled. I didn’t have to say, that everythings going to be okay. You’ll know, I said that line from my smile. Because for me, to say something like that can be said through a smile from the heart, a warm look and a hug.

    Sometimes you just wanted to talk to me about your days, your problems and about your stupid friends. Another time you wanted me to hear your jokes. Some other times you wanted me just to sit beside you and held my hands.

      You were not okay. That’s all I knew.

Image

  “ I’m a strong person, but once in a while I would like someone to take my hand and tell me everything’s gonna be alright.“ 

           Though many times I felt down, weak, ill, sad, disappointed, angry, tired. I tried not to complain to you. I didn’t want to bother you. But …

            Days has gone by. No news. Are you okay?

Tes Tes Tes

Ah. Akhirnya apa yang sepertinya sudah sejak lama saya duga, terjadi juga.

Setahun belakangan saya sering memperhatikan perubahan yang terjadi pada Multiply. Bukan hanya maintenance-nya, tapi juga perubahan tampilan sana sini. Saya malah sempat berpikir, „Lho? Kok tampilan MP jadi mirip dengan situs jejaring sosial di sebelah, ya? Biru … dan putih warnanya.“

Kekisruhan di MP beberapa hari ini sepertinya belum akan reda dalam waktu sebulan ke depan. Maklum. Banyak anggota yang mulai memindahkan tulisan, foto dan hal-hal penting lainnya bagi mereka. Termasuk saya, sih. ^^

Ya. Mulai mengisi rumah baru saya ini dengan tulisan-tulisan awal saya hingga beberapa tulisan terakhir saya di MP.

InsyaAllah di sini lebih awet. Amin.

Xenophobia: No Entry For Coloured Skin!

 „Sumpah gw gak akan ke bar itu lagi! Bar rasis!“, teman saya Yani dengan kesalnya berkata begitu saat kami makan di sebuah restoran Kebab di Walking Street Nørreport sebulan lalu. Sampai sekarang kata-katanya masih saja terngiang dia telinga saya. Tapi dengan santai saya membalas pernyataannya. „Memang kalau belum mengalami, tidak akan tahu.“ Ups! Saya tak perlu melihat ekspresi wajah teman-teman saya, tapi saya tahu mereka langsung terdiam mendengar kata-kata saya. Sepertinya kalimat saya mengena di hati mereka semua. Apalagi Yani, saya tahu dia langsung terdiam mendengar saya berkata begitu. Tapi saya yakin benar, sekali ini dia mengalaminya sendiri.
Jadi begini, sekitar sebulan yang lalu teman-teman saya dan saya pergi ke bar, Miami Bar. Yani, teman saya itu sudah pernah ke bar itu sebelumnya dan katanya cukup nyaman, karena bar tersebut juga menyediakan sofa yang empuk. Mungkin demi rasa nyaman pengunjungnya. Akhirnya kami masuk dan memesan minuman. Tidak lama kemudian Yani pergi keluar, karena ada beberapa orang temannya juga ingin menikmati malam minggu di bar itu. Tapi, sekitar setengah jam kemudian dia kembali dengan wajah kesal dan mengeluh panjang kali lebar tentang pelayanan di bar itu.
Ternyata terjadi sesuatu di depan pintu masuk bar. Tiga orang temannya tidak diizinkan masuk ke dalam bar! Wow! Saya cukup terkejut, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi di bar di kota ini. Kemudian dia bercerita dengan cepat dan kekesalan yang memuncak. 3 orang temannya itu adalah laki-laki yang berasal dari 3 negara yang berbeda. Satu orang dari Swedia, seorang dari Portugal dan seorang lagi dari India.
Nah, apa penyebab sehingga mereka tidak diizinkan masuk ke dalam bar? Warna kulit, kata Yani. Iya. Warna kulit salah satu dari merekalah yang menjadi penyebab, mengapa mereka tidak diizinkan memasuki bar itu. Penjaga pintu yang mengawasi di depan pintu mengatakan, sudah cukup „orang dengan kulit berwarna“ di dalam bar. Yani heran. Orang dengan kulit berwarna yang dimaksud si penjaga pintu yang mana? Karena ada banyak tamu yang masuk dengan kulit berwarna. Kebanyakan berkulit cokelat khas timur tengah dan dari wajahnya kelihatan sekali. Ternyata teman-teman dan sayalah yang berkulit berwarna, yang dimaksud si penjaga dan si manajer bar. Nasib. Saya hanya bisa tersenyum miris mendengar penjelasan Yani. Perasaan saya langsung datar. Minuman, musik, obrolan dan teman-teman di sekitar saya membuat saya hilang semangat. Ditambah lagi seorang teman saya terkilir kakinya di toilet bar, yang saya yakin karena dia mabuk, tapi tidak sadar dia mabuk dan ternyata tidak kuat minum.
Jadi, intinya adalah karena teman-teman Yani kulitnya berwarna. No entry for coloured skin! Seharusnya kalimat itu dipampangkan pihak manajemen bar di depan pintu masuk. Mengapa 3 orang teman Yani tidak diizinkan memasuki bar, adalah karena temannya yang berasal dari India itu berkulit „berwarna“.  Sangat disayangkan memang. Negara dengan penduduk pendatang sebanyak ini, masih saja memberlakukan kalimat penolakan seperti itu. Mengapa pihak manajemen tidak mengatakan saja, „Sudah terlalu banyak pengunjung di dalam bar.“. Kedengarannya lebih bisa diterima telinga, kan? Kami sempat berdiskusi kecil, mengapa si penjaga pintu mengatakan peraturan tersebut, sedangkan dia sendiri berkulit hitam. Tapi Yani berpendapat, peraturan itu dibuat karena ketiga temannya adalah laki-laki. Sedangkan jika pengunjungnya perempuan berkulit berwarna, maka tetap akan diizinkan masuk, karena kami semua perempuan. Perempuan yang banyak masuk juga akan menarik para tamu lelaki yang akan mentraktir minuman untuk para perempuan yang disukai mereka. Hmmm. Masuk akal juga.
Tapi ya begitulah yang terjadi dan sepertinya akan sering terjadi kedepannya di berbagai tempat dimanapun kita semua berada.
Akhirnya kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan teman saya yang terkilir kakinya ditemani teman saya yang lain sampai ke rumahnya. 
Jujur saja. Sampai detik ini saya masih terheran-heran meski di dalam pikiran saja. Mengapa masalah-masalah seperti ini masih saja sering terjadi di benua yang katanya menunjung tinggi hak asasi manusia. Paham Apartheid tak digubris lagi. Namun kenyataan yang saya lihat, dengar dan alami sendiri mengatakan sebaliknya. Apa harapan saya terlalu tinggi akan kecerdasan manusia di benua ini atau apa, ya? 
Saya juga pernah mendengar teman saya yang juga Au Pair menceritakan pengalamannya di ibukota negara ini. Jadi, saat dia memasuki salah satu toko jam sangat terkenal seantero bumi, yang berasal dari Denmark, dia mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Meski perlakuan itu tidak secara verbal diperlihatkan pelayan toko jam tersebut. Teman saya bilang, si pelayan bertanya dengan sopan kepada teman saya, tapi mimik wajahnya menunjukkan sesuatu yang berbeda dari yang dia ucapkan. Apalagi ditambah dengan pandangan melihat penampilan teman saya dari atas ke bawah dan dia selalu diikuti si pelayan kemanapun teman saya ini bergerak di dalam toko. Dipastikan siapapun yang diperlakukan seperti itu tidak akan merasa nyaman. Jika awalnya memang berniat untuk membeli barang di toko itu, maka kemungkinan besar tidak akan jadi membeli dan langsung keluar dari toko tersebut. Tapi teman saya itu memang berniat membeli, jadi ya dipastikan hal itu merubah cara pandang si pelayan toko atas teman saya.
Menurut saya, memang dibutuhkan hati dan pikiran yang jauh lebih terbuka dalam menghadapi perbedaan dalam bentuk apapun di dunia ini. Bukan hanya warna kulit. Sedangkan menghadapi seseorang atau kelompok yang berasal dari bangsa dan negara sendiri saja saya sering kali menghadapi xenofobia. Tapi yang utama menghadapi xenofobia ini mungkin adalah dengan memiliki persiapan yang cukup. Seperti mencari informasi sebanyak mungkin tentang sifat dan karakter masyarakat di suatu tempat. Menjadi pendengar yang baik juga penting menurut saya. Dimulai dari belajar menjadi pendengar yang baik, insyaAllah akan menjadi lebih sabar dalam menghadapi masalah xenofobia ini. Semoga, ya. 
Tulisan ini saya posting pada tanggal 4 April 2012, 4:17 PM, waktu Kopenhagen. Saya pindahkan dari rumah saya yang lama di http://www.seestern2.multiply.com