I Don’t Know Everything

„Maybe they still don’t realized that they don’t know everything, but arrogantly cover their lack of self-awareness.“

 

I just give a comment into http://www.kristinschronicles.com/the-most-dangerous-words-in-the-english-vocabulary/#comment-69 

How many seconds, minutes, hours, days and years I read books, browsing, asking, finding informations … I still don’t know everything. Well, I used to say „I know that.“, when I was on the age 20 something. Often arguing. More talking, less hearing. Lack of understanding people around me.

But, I think … I’ve changed. Though I also realized that „Miss Know-Everything“ still left traces inside me. 🙂

Let’s take it easy and just be better than before.

May God bless her soul and who murdered her get what’s in returned.

WAYNE K. SPEAR

Malala Yousafzai

THERE ARE no words of sufficient force to summarize this week’s attempted murder of fourteen year-old Malala Yousafzai, in the northwest Pakistan city of Mingora. Yet as shocking as this savagery is, there is nothing new about it either: depravity is the business of the Taliban franchise. There are however some lessons to be drawn from the years during which the Tehrik-i-Taliban Pakistan (abbreviated as TTP and known also as the Pakistani Taliban) terrorized the Swat valley and Mingora specifically.

The rise of the Pakistani Taliban coincided with, but was not an outcome of, the American and British entrance into the Northern Alliance battle against the Afghani Taliban. Here I should remind the reader that the Taliban of Afghanistan and Pakistan share a name and a list of enemies but little else. In structure, interests and objectives they differ, and excepting a short-lived declaration of common purpose — to…

Ursprünglichen Post anzeigen 477 weitere Wörter

Aturlah Kemarahanmu Sebisamu

Aturlah kemarahanmu. Memangnya bisa? Menurut saya, bisa saja.

Ini adalah apa yang saya alami di pagi dua hari yang lalu….

Pagi. Saya mulai dengan menyetrika pakaian. Mau bersihkan dapur. Hostfamily saya belum pada sarapan. Jadi saya kerjakan yang bisa dikerjakan lebih dulu. Pintar-pintarlah mengatur ulang jadwal kegiatan tiap harinya. Sepertinya begitu yang harus saya lakukan selama 2 minggu ini.

Kemudian Signe bangun dan sudah berselimut di depan televisi di ruang khusus anak-anak.

Tidak berapa lama kemudian bel pintu rumah berbunyi. Awalnya Signe langsung lari ke pintu. Tapi saya lihat dia lari dan masuk kembali ke ruang anak-anak. Jadi, saya yang ke pintu. Saya melongok keluar. Ternyata ada seorang pria setengah abad berjalan ke arah jalan kembali. Saya pikir, itu tukang sampah. Tapi kenapa ke rumah? Kenapa di hari kamis pagi? Padahal jadwal mereka menyamperi tiap rumah adalah hari senin subuh.

Akhirnya saya masuk lagi ke kamar saya dan melanjutkan yang sedang saya kerjakan sebelumnya. Beberapa saat kemudian saya dengar suara kaki Morten bergegas menuruni tangga. Sekilas saya mendengar dia ke dapur, sambil mengatakan sesuatu ke Signe, tapi nama saya juga disebut. Ada apa, ya? Kenapa nama saya juga disebut-sebut?

Tiba-tiba dia teriak memanggil nama saya dengan intonasi yang sudah dipastikan bisa membuat orang yang mendengarnya langsung syok jantung dan memutuskan konsentrasi dari apapun yang sedang dilakukan saat itu juga. Kemudian dia bertanya, „Do you see where the car key?!“. Entah karena saya syok mendengar suaranya atau karena otak saya mulai menganalisa apa yang terjadi sampai dia harus memanggil saya dengan berteriak seperti itu, saya jawab, „No.“ Saya menjawab pertanyaannya dengan sangat datar dan biasa saja. #huhuhuhu. What happened to me? Actually I want to cry, because I was schocked, sad, dissapointed, pisted off. Tapi sepertinya semua itu terkalahkan oleh analisa di otak saya…. Saya mendengar di depan pintu dia menggeram dan ngedumel sendirian. Dia obrak abrik lemari kecil tempat charger hp, kabel iPhone, kunci-kunci rumah dan pernak pernik kecil yang saya belum tahu sampai saat ini untuk apa. Saat semua isi di hati dan pikiran saya bercampur aduk. Saya jadi tahu mengapa si bapak yang saya kira tukang sampah dan mengapa Morten mencari kunci mobil saat itu juga, adalah karena dia harus memindahkan mobil dari jalan. Ternyata si bapak itu harus mengangkut semua batu untuk pekarangan yang telah dibongkar dan disusun Morten di depan mobil. Bukannya saya meremehkan kecerdasannya, tapi kenapa tidak dipersiapkannya dari kemarin malam untuk memindahkan mobil. Kalau dia toh tahu, si bapak tukang angkut itu akan mengangkut batu taman itu keesokan harinya. Entah itu jam berapapun datangnya. Be prepared is the whole point! Pada saat itu pula saya YAKIN sekali, kunci mobil terbawa di dalam tas tangan Sofie ke kantornya. Olala!

Akhirnya saya berusaha menenangkan hati dan pikiran. Inhale exhale, kata mbak Yeyen. Saya melanjutkan menyetrika. Dari pintu kamar saya, saya melihat di kejauhan, tergeletak tumpukan kabel-kabel charger di atas lantai kayu. Duh! Saya tidak peduli dia mau mengobrak-abrik isi rumahnya. Tapi mbok ya tolong dirapikan kembali. I’m not a housemaid. I’m here for this job just „to help“. Just as the third hand. I can’t and won’t do the same thing more than once in the same day. Pada saat itu juga, saya langsung berpikir. Come on! You’re an educated person and much older than me, but you ask me something that way? With that toned? Maaf, tapi saya harus mengatakan. You’re no better person than I am.

Seharian kami tidak berbicara. Bukan karena saya tidak mau menyapanya, tapi karena kami bekerja. Saya mengerjakan kewajiban saya di rumah ini dan dia bekerja di ruang televisinya. Sementara Signe asyik di depan televisinya seharian. Sepanjang hari banyak hal berseliweran di dalam hati dan pikiran saya. Apakah harus saya konfrontasi ataukah bagaimana? Akhirnya saya mengambil keputusan, Ya Allah, sabar-sabarkanlah hambamu ini di sini. Semoga hari ini terlewati tanpa keburukan emosi kami.

Jam berlalu. Sampai pada saat saya mengangkat jemuran kecil di luar, dari dalam dapur saya mendengar Morten mengatakan sesuatu pada saya. Karena saya kurang mendengar apa yang dikatakannya dengan jelas, saya tanya lagi, „Pardon?“. „Have some dinner.“, katanya. Saya jawab saja, „Yes, thank you.“.

Hmmm. Sepertinya dia berusaha meminta maaf dengan cara itu. Huff. Laki-laki dimana-mana sama saja. Susah benar mengatakan minta maaf. Meski saya tidak terlalu ingin memperpanjang permasalahan yang mungkin dianggapnya sepele, tapi bagi saya masalah besar, saya berusaha lebih „waras“. Seandainya saja di saat itu juga saya kelepasan juga. Sudahlah. Sudah dipastikan akan terjadi perang dunia ketiga. Lagi dan lagi. Saya masih berusaha menahan diri untuk tidak meluapkan kemarahan saya, karena di rumah ada Signe. Saya memang kurang bisa mengatur perasaan saat berbicara dalam keadaan beremosi. Kalaupun saya bisa melakukannya, percayalah. I do it with all my strength to say each word.

Ah sudahlah. Hal terpenting bagi saya sekarang adalah, meski tidak harus dikatakan ke kedua belah pihak, saya hanya berharap dia menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya. Intinya hanya harus sama-sama sadar diri. Tidak ada yang merasa lebih di atas. Meski ya saya merasa hal itu tidak mung
kin 100 % tercapai, karena beda bangsa, beda cara berpikir dan beda budaya. Eh, satu lagi. Beda pengalaman.

….

Saya sering kali berpikir. Apakah karena banyak sekali perbedaan di antara bangsa Eropa dan Asia mempengaruhi cara berpikir dan dasar pemahaman bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain di sekitar kita dengan sewajarnya dan sama dengan bagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh orang lain? By the way, what common for you, doesn’t always means common for me. I do really try so hard to understand that and the person, also.

Jika saya ingin berbicara panjang kali lebar tentang sejarah peradaban manusia. Saya akan dengan senang hati menjelaskan, bahwa bangsa-bangsa di benu Asia memiliki kemajuan di berbagai bidang ilmu sudah sejak beribu tahun lalu. Tapi, saya sedang „plain“. Orang Jerman bilang, „Im Moment bin ich flach.“.

Hmmm dari balik jendela saya melihat langit sedang senang hati. Cerah. Hmmm. Let’s make our day brighter than yesterday.


Selamat berakhir pekan. Happy weekend. Schoenes Wochenende. Tylikke Weekend.


Biarkan Kami Tertawa

Pengalaman memang guru terbaik. Pasti banyak yang pro dan kontra dengan kalimat tersebut. Tapi saya memang tipe orang yang selalu belajar dari pengalaman.

….

Terinspirasi dari tulisan mbak Lessy dan tentunya pengalaman saya sendiri selama ini. Sebenarnya saya malas-malasan untuk menceritakan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan Xenophobia, karena menurut saya semua kembali kepada pribadi masing-masing dalam merespon hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Tapi, akhirnya saya tergelitik juga setelah membaca blog-nya mbok Lessy.

Kejadian sabtu sore lalu hanya salah satu dari sekian banyak kejadian yang saya alami dan yang menunjukkan, bahwa penduduk asli di negara ini masih belum bisa menerima kehadiran para penduduk pendatang di sekitar mereka. Saya paham, yang namanya proses adaptasi dan asimilasi tidak gampang bagi tiap orang untuk dilakukan dalam waktu singkat, karena saya selalu mencoba berpikir positif, bagaimana jika saya yang berada di posisi mereka.

Kejadian pertama terjadi pada saat berlangsungnya acara 17-an kecil-kecilan di KBRI Denmark. Cuaca cerah dari pagi hingga sore alhamdulillahnya. Banyak perlombaan yang diselenggarakan di halaman samping KBRI. Ada lomba bakiak, lari karung, bawa kelereng pakai sendok digigit di mulut, memasukkan paku ke dalam botol, lempar bola ke dalam ember dan lomba menggambar. Sedangkan perlombaan yang absen adalah lomba tarik tambang, lomba makan kerupuk dan lomba panjat pinang.


Mix Team

Kalau perlombaan yang terakhir itu yah wajar saja menurut saya. Lagipula dimana mencari pohon pinang yang boleh dan bisa ditebang hanya untuk lomba sehari. Pinangnya ada di Kopenhagen ini, tapi … letaknya di dalam Museum Sejarah Mesir Kopenhagen. Hahahaha!


Nah, saat akan dimulainya lomba, para panitia ternyata kurang persiapan, sehingga ada beberapa orang dewasa yang membantu memasang perlengkapan perlombaan. Tiba-tiba saya perhatikan dari pinggir arena, ada seorang kakek, yang saya yakin berkewarganegaraan Denmark, mengkritik panitia yang lagi sibuk ini itu. Saya lihat, dia mengkritik seberapa jauh jarak untuk melempar bola dari tali pembatas di rumput sampai ke ember. Memang, saya pikir juga terlalu jauh bagi anak-anak. Nah, dimulailah protes memprotes. Jadi, di sebelah kanan saya, duduk bli Anom dengan keluarganya. Kami duduk di tikar yang disediakan KBRI bagi tamu yang ingin menonton. Hadeuhhhhh. Bli Anom kelihatannya mulai panas, karena ternyata bukan saya saja yang memperhatikan si kakek mengkritik kinerja panitia yang hanya segelintir. Dari tempat duduk, bli Anom memanggil-manggil si kakek. Tapi si kakek sepertinya tidak mendengar. Saya yakin karena jarak antara mereka yang berseberangan dan begitu banyak orang di halaman dan cukup ramai. Akhirnya bli Anom bangkit dan nyamperin si kakek. Sepertinya mereka berdebat. Kemudian bli Anom duduk kembali di sebelah saya, sambil ngedumel tentang si kakek dan kritikannya ke panitia. Beliau bilang, kalau kita bukan panitia, ya bantu. Bukannya malah mengkritik. Dari seberang lapangan saya melihat si kakek memberi isyarat menggunakan telapak tangan kanannya dan membuat seperti mulut bebek yang banyak bicara. Duh! Betapa tidak sopannya si kakek. Saat itu juga saya melirik ke arah Lars. Ternyata dia juga memperhatikan apa yang terjadi antara bli Anom, temannya bermain bulu tangkis setiap jum’at malam dengan bapaknya. Kelihatan kekecewaan di wajahnya atas kedua orang dewasa yang berdebat. Saya tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di antara Lars dan bli Anom kedepannya. Tapi, saya yakin, pasti ketidaknyamanan itu ada di antara mereka. Syukurnya mereka laki-laki, saya pikir. Kalau itu terjadi dia antara wanita. Hmmm. It’s going to be a long argument. Anytime anywhere.

Yang pakai baju putih itu putrinya Lars

Kejadian kedua terjadi pada hari yang sama di bus yang kami naiki menuju pusat kota. 4 orang teman saya, saya, tante Margit, Mark dan Martin berada di dalam bus yang sama. Hanya saja 2 orang teman ada yang duduk di bangku belakang, seorang lagi duduk di bagian tengah, saya dan yang lain berdiri, karena tidak begitu banyak tempat duduk yang tersisa. Ada yang kosong, tapi dikhususkan bagi manula. It’s forbidden seats for young people! Kemudian seorang teman saya, Yani, tante Margit dan anak-anaknya bercanda dan tertawa lepas. Pada saat mereka tertawa itulah, tanpa sengaja saya melihat 2 orang nenek yang duduk di dekat mereka berdiri menggeleng-gelengkan kepala mereka, sambil saling menatap dan tersenyum merendahkan ke arah teman saya, tante dan anaknya. Ah. Dalam hati saya langsung merasa miris melihat mimik wajah mereka itu. Memangnya ada yang salah dengan orang yang tertawa lepas secara bersama-sama di dalam bus? Memang, tertawa juga bisa mengganggu ketenangan dan kenyamanan penumpang yang lain. Tapi menurut saya dan orang lain yang berada di dalam bus tidak ada yang keberatan. Tidak ada yang mengeluh dengan tawa mereka. Saya ingat, tante yang tertawa paling kencang saat itu. Jadi saya tertawa geli saja di dalam hati. Si tante sudah seperti orang Indonesia saja kalau tertawa. Lepas. Begitu juga dengan anak-anaknya. Saya bisa melihat mimik wajah kedua nenek itu, karena saya berdiri agak jauh dari mereka semua, saya memakai kacamata hitam dan tidak banyak bicara akibat saya mulai merasa tidak enak badan. Jadi sepertinya 2 nenek itu tidak memeperhatikan saya sebagai orang asing berambut hitam dan kecil. Mereka turun sebelum kami.

Mungkin, bagi kebanyakan orang tidak akan menggubris, cuek, tidak peduli, menganggap angin lalu, dan sebagainya. Tapi bagi saya, jika ada 2 kultur bersinggungan, hal-hal yang kita anggap sepele bisa menjadi penyebab sesuatu yang fatal terjadi. Jika kedua kultur itu tidak membuka pikiran dan menerima kelebihan atau kekurangan satu sama lain.

Saya jadi teringat dengan kejadian yang membuat saya mulai membuka hati dan pikiran kepada banyak hal, yang berkaitan dengan xenophobia.

Saat saya masih menjadi Au Pair di kota Freiburg im Breisgau, suatu sabtu sore kakak kelas saya di Unimed dan saya berniat ke toko Asia di stasiun utama. Nah, pada saat akan menyeberang, kami melihat ibu-ibu orang Jerman yang rumahnya pernah jadi tempat kos seorang teman saya dari Bogor. Dia mendapatkan beasiswa S2 jurusan Kehutanan. Saya spontan mengatakan ke kakak kelas saya itu, „Pergi aja, yuk? Cuekin aja dia. Dia udah gak baik ke Jaya.“ Tapi, tak saya duga. Kakak kelas saya itu menarik tangan saya dan menyusul di ibu tersebut. Kemudian dengan riangnya dia menegur ibu itu dengan ramah dan tersenyum dari hati. Sambil menunggu lampu hijau muncul di seberang, kakak kelas saya mengobrol dengannya. Akhirnya kami berpamitan, mengucapkan salam dan menuju arah yang berbeda. Kakak kelas saya bilang, „Biarlah dia yang kasar dan tidak ramah ke Jaya dan ke kita, Wi. Tapi ada baiknya kalau kita tidak begitu ke dia. Kita tunjukkan bahwa kita masih sopan menghadapin orang-orang yang kasar ke kita dan inilah kita orang Indonesia.“ Astaghfirullah! Benar-benar tulusnyalah kakak kelasku yang satu ini. Saya ingin menangis saat itu juga. Tapi mengingat kami sedang berada di tempat umum, saya tunda dululah acara menangis saya.

Satu lagi terjadi kemarin malam di tengah pusat perbelanjaan di Nørreport Walking Street. Saat saya melintas dengan teman saya. Kami melihat ada 3 orang pria berwajah khas orang timur tengah sedang berkhutbah tentang Al Qur’an. Mereka menggunakan pengeras suara. Salah seorangnya tidak berhenti bicara, sementara yang lainnya melayani orang-orang yang menghampiri. Tiba-tiba saja, dari arah kiri pundak kami, penjual bunga yang memang selalu bermarkas di tempat itu juga mulai berteriak-teriak menjual bunganya. Teman saya langsung tertawa geli dan pelan. Saya juga langsung tertawa. Saya lihat di sekeliling kami, para pejalan kaki juga tertawa geli melihat situasi tersebut. Intinya, tidak ada yang mengalah dalam mengeluarkan suaranya. Siapa yang bisa mengeluarkan suara paling tinggi, keras dan lama. Sebenarnya saya miris, tapi apa hendak dikata. Satu hal yang benar-benar membuat saya heran. Ini pertama kalinya saya melihat kejadian seperti itu. Dimana ada muslim yang berkhutbah di tempat umum dan terbuka begitu. Di benua Eropa pula! Atau mungkin saya saja yang belum pernah melihat di tempat lain di benua ini, ya. Hehehe. Saya sering melihat di Jerman para pendeta di jalan-jalan pusat perbelanjaan atau orang-orang yang menawarkan informasi tentang kekristenan di tiap stasiun kereta api kecil di kota Freiburg im Breisgau dan Hamburg. Apa yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah para akhi itu diizinkan pemerintah kota Kopenhagen untuk melakukan khutbah di tempat umum?

Memang, alangkah naifnya saya, jika mengharapkan setiap orang dapat menghadapi orang lain yang tidak sependapat dengannya dengan cara yang sopan dan santun. Tapi tiap kali saya melihat kejadian seperti yang saya ceirtakan di atas, saya selalu teringat kembali dengan apa yang terjadi saat saya bersama kakak kelas saya sabtu sore itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bisa memaksa hati dan pikiran untuk lebih terbuka, sopan, santun dan memberikan senyum yang tulus.

Acara bagi bingkisan khusus untuk anak-anak. Si Mark manyun, karena isi bingkisannya cemilan untuk anak-anak.


#masak Indomie kuah dulu nih utk mkn siang