Bild

Man on The Water

Soothing, breaking one by one, Peaceful brushing on the shore In crescendo and then back down My soul is asking for much more Soothing Sea Sounds - Aufie Zophy
Man on The Water

Soothing, breaking one by one,
Peaceful brushing on the shore
In crescendo and then back down
My soul is asking for much more

Soothing Sea Sounds – Aufie Zophy

Ps: A month ago, when I was trying to stand between corals, I thought I was strong enough to stand on my feet. But, I was wrong. The waves made me have to kneel in the water and pushed me, again and again. Bleeding. Pain. Scratches. Wounds. It was hurt but not enough to make me cry and give up. I stood up and free dived. It was the only way to get closer with the sea. You don’t stand. You fused with the water. The sea.

Scheisse Verbindung!

Entschuldigung! Ich möchte eigentlich nicht diese Wörter benutzen, aber was heute Nachmittag passiert ist, macht mir ärgerlich.

Ich sollte ein Interview gehabt werden. Aber die Netzwerk-Verbindung nicht gut gegangen ist und ich glaube wegen des Erdbebens in Banda Aceh.

Na ja, ich hoffe, geht’s alles gut nächster Woche in Bali.

Begitu Dekatnya Aku Dengan Kematian

Malam sekitar 15 tahun lalu, seorang anak perempuan usia remaja itu berdiri terdiam di depan pintu kamar mandi di dalam rumahnya. Dia masih berdiri tak bergerak dari atas keset pintu kamar mandi, sambil memperhatikan acara televisi yang tak membuatnya tertarik sedikitpun. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan.

“Uwaaaakkkkk! Uwaaaakkkkk! Uwaaaakkkkk! Orang itu, wak! Orang itu!!! Orang itu mau perang!!”, teriak seseorang di luar pagar depan rumah.

Anak itu mulai merasakan kekhawatiran yang melebihi apapun yang pernah dikhawatirkannya selama ini dan tak dapat lagi dia jelaskan. Perang? Dimana? Siapa yang berperang? Kapan? Secepat kilasan waktu pikirannya mulai berlari ke sana kemari.

Kemudian dia melihat kedua orangtuanya berlari ke depan rumah dan dengan nada tinggi karena tak percaya dengan kata-kata orang itu ayahnya bertanya bertubi-tubi, “Siapa mau perang?!! Apanya kau ini??? Masih maghrib gini kau teriak-teriak di depan rumah orang ngomong perang perang perang!!! Siapa yang perang?!!!”. “Iya, wak!!! Awak gak bohong, wak!! Banyak orang kumpul di lapangan bawah bawa banyak parang!!! Preman-preman sini orang itu, wak!!! Cepatlah uwak ikut ke sana, wak! Biar uwak liat sendiri yang ku bilang!”

“Buka pagar ini biar ku lihat ke sana!”, kata ayahnya kepada ibu anak itu. Tapi dengan memelas si ibu mencoba mencegah, agar suaminya tak pergi kemanapun saat itu. Sedangkan anak perempuan itu terpaku mencoba memahami situasi saat itu. Benarkah akan terjadi peperangan di daerah tempat dia tinggal? Dia tak berkata apapun kepada ayahnya.  Kemudian tanpa sadar dia mengikuti langkah ayahnya kemanapun di dalam rumah. Dia membayangkan, apa yang akan dilakukan ayahnya atas kekacauan yang akan terjadi malam itu. Bahkan saat ayahnya berkata, “Coba kau ambil tombak besi dan bambu Cina itu dari balik pintu, kak!”. Seketika itu juga ibunya membentaknya, “Jangan kau ambil, kak! Ngapain ikut-ikutanlah sama orang itu. Masih sayang nyawa atau gak?!”. Tapi karena dia disuruh ayahnya mengambil tombak besi rujung runcing dan bambu Cina yang tebal dan berat itu, akhirnya dia mengambil juga dari balik pintu kamar tidur orang tuanya. Tiba-tiba datang seorang tetangga, teman ayahnya. “Bang! Cepat, bang! Orang kampung udah ke sana semua.!”. Dari dalam rumah ibu anak itu berkata, “Ngapainlah ke sana udah tua-tua gini??? Kenapa gak lapor Polsek sini aja? Biar aja orang itu yang urus!”. Tapi anak itu melihat ayahnya pergi ke luar dengan tetangga itu, sementara ibunya juga pergi keluar tapi entah kemana. Anehnya, saat ibunya keluar dia tak merasakan harus mengikuti ibunya, melainkan ayahnya yang ada dipikirannya saat itu juga. Rumah hening beberapa saat. Kemudian sesuatu seperti membisikkan di telinganya untuk keluar mengejar ayahnya detik itu juga. Tanpa berpikir lagi dia berlari keluar rumah dan mencari ayahnya. Tanpa alas kaki. Tanpa ada satupun pikiran lain di kepalanya selain mencari ayahnya. Dia berlari mencari ayahnya di gang-gang tetangga dan tak menemukan sosok ayahnya. Kemudian dia berlari ke gang sebelah dan menuju ke rumah kawan ayahnya yang datang ke rumah. “Ibu lihat ayahku? Ayahku kemana tadi, bu’?”. Si ibu menjawab, “Ayahmu ke lapangan sana!”. Dia berlari ke arah lapangan bola voli yang penuh dengan semak-semak di sana sini. Seketika dia berhenti berlari dan melihat begitu banyak laki-laki seumuran ayahnya dan laki-laki muda yang belum pernah dia lihat sebelumnya membawa parang dan senjata tajam lainnya di tangan mereka masing-masing. Sekitar 100 orang. Tapi dia tak merasakan apapun. Dia masih hanya terdiam di pinggir jalan. Sambil mencari dimanakah ayahnya? Semua orang mulai berteriak dan saling menolak dada laki-laki lain di depannya. Akhirnya dia mendengar suara ayahnya yang mencoba melerai 2 laki-laki dengan senjata tajam di tangan mereka yang adu mulut dan berdiri terlalu dekat. Entah apa yang terjadi, hanya dalam sepersekian detik dia melihat sosok ayahnya yang berlari ke arah jalanan menuju rumah. Dalam kegelapan malam anak perempuan itu berlari ke arah rumahnya kembali. Dia mengejar ayahnya. Hanya ayahnya.

Namun, saat dia mengejar ayahnya, dia mendengar seorang laki-laki bersenjata tajam mengatakan, “Kemana dia lari?! Biar ku bacok kepalanya sampe putus! Kau cari dia sampek dapat!”. Mereka akan membunuh ayahnya saat itu juga! Tanpa sadar anak itu mendekati laki-laki itu, “Jangan, om…itu ayahku, jangan om…”. Secepat kilat tangan kiri laki-laki itu mencekik erat leher anak perempuan itu dengan lengannya. “Diam kau! Mau ku hajar juga kau?! Mau mati juga kau sekarang ku buat?!”. Entah mengapa anak itu tidak merasakan takut pada laki-laki itu dan hanya menatap mata laki-laki itu dengan kesedihan teramat sangat karena belum ingin kehilangan ayahnya. Dia melihat dalam kegelapan, laki-laki itu mengangkat tangan kanannya yang menggenggam batu bata. Kemudian dia mendengar, “Jangan! Gila kau?! Itu anak perempuan.” Tangan laki-laki itu ditahan laki-laki yang satu lagi. Tiba-tiba dia mengucapkan, “Astaghfirullah!” dan melepaskan lengannya dari leher anak itu, melepaskannya dan pergi. Saat semua orang berlari ke sana kemari, anak perempuan itu pun berlari lagi mencari ayahnya. Namun, tiba-tiba dia berhenti di depan rumah tetangganya dan terkejut saat melihat ibunya berdiri di teras rumah itu sambil memeluk dadanya dengan erat, seperti orang kedinginan. Ibu pemilik rumah memeluk pundak ibunya. Dia melihat sekilas mata ibunya saat itu. Ada kekhawatiran yang teramat sangat dari dalam kedua mata tua itu. Air mata terlihat akan jatuh dari pelupuk matanya. Dia pun mulai berlari lagi mengejar ayahnya yang sudah entah kemana. Dia masuk kembali ke rumahnya dan berteriak, “Ayah! Ayah! Ayah!”. Rumahnya ditinggalkan kosong. Bahkan kakak dan kedua adiknya entah kemana. Dia berlari lagi keluar rumah dan menuju jalan pertigaan. Dia berdiri di tengah jalan dan berputar-putar, mencoba menerka dimanakah ayahnya saat itu. Kemudian dia masuk ke rumah salah satu tetangga di pertigaan itu dan bertanya, “Om, ayah mana? Om lihat ayahku?”. Mereka mengatakan ayah anak perempuan itu baru saja lari keluar ke rumah tetangga di depan rumah mereka. Anak itu berlari lagi keluar dan saat akan menuju rumah tetangga itu, dia melihat si ibu yang punya rumah itu. “Ibu lihat ayahku kemana?”. Si ibu yang berdiri di depan pagarnya yang hampir tertutup rapat tersenyum sambil memberi isyarat kepada anak itu untuk diam. Dia meletakkan jari telunjuk kanannya di bibirnya. Di belakang anak perempuan itu, beberapa orang laki-laki mulai berdatangan dan mendatangi setiap orang yang mereka lihat, dimana ayah anak itu bersembunyi. Mereka mencoba memasuki rumah-rumah itu, tapi tak berhasil, karena semua pemilik rumah menutup pagar dan mengunci pintu. Mereka berteriak-teriak di jalan akan membunuh ayah anak itu, kalau sampai mereka melihatnya dan mereka pun pergi entah kemana dan tak kembali. Setelah beberapa saat tak ada seorangpun dari mereka yang kembali, akhirnya anak itu masuk ke rumah ibu itu dan melihat ayahnya yang terduduk kaku dan pucat. Kemudian mereka pulang ke rumah mereka. Anak perempuan itu masih dalam diam dan mengikuti ayahnya dari belakang tanpa suara.

 

Dan setiap detik dari apa yang terjadi malam itu masih diingat anak perempuan itu. Meski ingin melupakan, akhirnya dia menyadari dan memahami, bahwa itu bukan jalan terbaik untuk mengatasi kenangan buruknya, melainkan dengan menerima semuanya dengan ikhlas, seiring dengan waktu berlalu.

 

 

 

How Fast Am I?

Oh, yeah! Interesting title, right? But please, don’t imagine that I’m genetically related with that amazing Superman. Hahahaha! Because I am not and don’t want to be one of his relative.

Actually this is not the first time I catched something falling. Actually I want to forget that I did it several times , since I couldn’t even remember how many times.

The latest was yesterday evening, while my hostfamily and I were chatting after dinner. It happened because Noah, their youngest son, grabed a standing lamp in the corner of the dining room, just half of meter on my left side. My hostmother, Jeanette, put Noah on the floor near the lamp, because he acted really like a baby! 🙂 When she fed him very tiny chopped spaghetti, suddenly he banged his bowl. It was totally chaos! Tiny spaghettis everywhere! My hostmother and hostfather instead of being angry, but laughing. We were silence for a while and then smiling together. Baby. Now Noah shows that he is not that kind of funny baby anymore. 🙂 After that Jeanette put Noah on the floor and said, „That’s it! You’re done!“ I still watched Noah wants to crawl to his palace in the living room. It’s a soft carpet for babies to play with many toys on it. I thought he’s going to crawl to his palace. But he wasn’t! He try to grab the standing lamp in the corner of the room right behind Jeanette. Once again, I thought he was trying to stand up with his right hand holding on the lamp and the left hand try to reach the wall. It wasn’t. He gave up and try to grab the lamp and drop it! Somehow I got that „thing“ and it was right. When I was still talking with Jeanette and my hostfather, I saw Noah grabbed the lamp and almost dropped on to Jeanette’s head. I didn’t know what happened and how to explain it, but I stand up as fast as I can and my right hand catched the top of the lamp and hold it. Because of trying to catch the lamp so it wouldn’t fall on to Jeanette’s head , I didn’t realized that my right thigh hit the edge of Jeanette’s chair. I feel the pain about a few minutes after that. And it was really hurt. Then my hostfather said, „Good reflex!“. I just can give painful smile. 🙂 I don’t care how good my reflex motion. I just care about your son. And Noah crawled again and acted like nothing happened because of him. Babies are the same! 🙂 Pooing, peeing, eating, drinking, playing, sleeping, smiling, laughing and crying. That’s all.

Image
Noah always try to touch Molly’s fur. Sorry, I mean grabbing her fur.
Image
Don’t Shoot Me!
Image
The first time I took his photo while sleeping

Often I feel uncomfortable with what happened and even with myself. Sometimes I think maybe I am so aware of what happens around me and „know“ what will happen before it happened. As far as I can remember, I catched falling lens cap from my friend professional digital camera when I was on the street photo hunting with him and 2 other friends. The other time when I sat in digital camera store in a mall in my hometown. My friend was sloppy when he opened the lens cap and finally fell. But before it touched the floor, my left hand catched it. He said,“What an amazing move, Dwi!“. I just smiled. I really didn’t know what happened that moment. I didn’t know that lens caps going to fall. The same thing happened when I blocked a ball with my right hand that almost hit my face outside of the court. Once, when I was in highschool, I grabbed my friend’s uniform and pulled her back from an accident in front of our school gate. The car didn’t hit her but the car’s left front tire rolled on my left shoe. She was angry with me because I grabbed her shirt. I told her that the car just passed us by, was almost hit her if I didn’t do that.

I still didn’t understand. After something like that happened, I always felt exhausted. It was like all my energy fly away. Or am I just „too much“? Is someone out there can help me to explain about this?

A Decade With You

Cha, it’s been a decade ago we met and started this funny, weird, stupid, lovable and caring friendship and sisterhood. Do you remember the first time we met in our basketball club and finally found out that actually we studied in the same building but only different floors? Voila! We also lived not far from each other! A coincidence? I hope that God make a good purposes through that coincidence. Days, months, years has gone by. We talked, went camping with friends and traveled just the two of us. Do you still remember that embarassing trip in our bus from Medan – Banda Aceh? Alhamdulillah they didn’t threw me out of that cigarettes smelled bus. LOL. The most memorable trip in my life, was with you. Almost got bitten by that Sabangs wild monkeys near the 0 Km Point of Indonesia when we were heading to the vila. The unpreparable trip to Bukit Lawang? I promise in my life will never do such stupid trip plan again. Ever! But that was also funny, right? We met very interesting traveler there and I have a culture shock again in my own homeland, because I saw an undiscribable crowded there. Hey! I didn’t remember that it was a national holiday. Indonesia Independence Day! Great, huh?! 😀 Ouw! I forgot another unforgettable trip to Tarutung. Thank you for allowed me to join your trip there. Now I know how delicious Mi Gomak, Fried Banana and Black Tea to have for breakfast. I miss so much Mi Gomak, you know. :‘) 

 Image

Image

Image

Image

We fought just because of little things. I hate everytime you called me Boneng and shorty. Yeah yeah! You streetlight bar! :)) Slim and brown and fast walker. Do you remember, we laughed together, when we saw a man wore unique outfit passed us by in a shopping center while we licked that A&W chocolate Monas ice cream, or just a plain and normal but milky soft ice and sat for hours just to chat about our weird campus, family problems, relationships and so on. We spent whole weekend just in your room heard radio stations and called them just to ask for songs to play for ourself or made a fastcall to answered quizzes, which very often we won CDs and merchandises! 😀 I remember all what we have near and far. We always try to contact each other. I know I’ve made many countless mistakes to you, but you still forgive me. Thank you very much, sist. I know, that we’re not always there for each other, but I know my heart, mind and soul always there for you, wherever you are. And I know you too, to me. 

Today, you make a promise to God for your soulmate. Yes, you find him, finally. :‘) So happy for you. I can’t tell you how happy I am, Cha. But makes me so sad and it’s your fault, because now I’m crying in front of the computer screen, because I CAN’T SEE you in front of the altar in your special day! SHIT! Well, I think I should stop saying something now or I’ll cry harder. I have nothing more to say here than a happy new life for you both. Happy ever after. ^^

Image

Image

Ps: All these photos were taken in September when we were traveling to Banda Aceh and Weh Island – Indonesia, only 9 months after the tsunami in our beloved Sumatera Island.

Bild

Cold Evening By The Lake

21:31 GMT+2

No lights, typing in the dark. It’s not that I’m trying to get blind. Lol. I just try to get my eyes tired and sleepy. That’s all.

„Good nite … Sweet dream“. Dreaming …. What is a dream? Long time no dreaming. Lol. Is it true that adults can’t have sweet dreams anymore? Only children has sweet dreams? If I dream tonight, I dream we sit together under the tree and spend an evening. Ignore other things.

Cold Evening By The Lake

I don’t know and don’t care. I just need to enjoy my sleep and that „Good nite … Sweet dream“. That’s all. One more thing, why do I feel that honestly I really need a BIG hug?

Road To The After Life

 

 

 

Hot Pants di Acara Berbuka Puasa

    Saya tidak tahu harus memulai darimana. Saya inginnya menanyakan kepadanya, „Pernah bersekolah tidak, sih?“. Tapi saya urungkan, karena saya selalu ingin tetap berpikiran terbuka, bahwa tidak semua orang yang pernah mengenyam pendidikan akan berpikir dan bertindak layaknya seseorang yang pernah mengenyam pendidikan. Tidak adil baginya, jika saya menilainya dari segi pendidikan. Tapi, lagi dan lagi, pendidikan, pengalaman dan hasil pengamatan saya terhadap lingkungan di sekitar saya membuktikan apa yang sudah saya perkirakan akan terjadi. Pendidikan memang penting demi memberi kebaikan dan pelajaran penting bagi kehidupan setiap manusia di bumi. (Berat juga kata-kata saya, ya ) Semoga sesuatu terjadi pada dirinya dan memberikan hikmah seumur hidupnya.  

…. 

  Jadi, ini sepenggal percakapan saya dengan salah seorang teman baru, putri Minang, dari Jerman. Itu pertama kalinya saya melihat wajahnya langsung dan mengobrol dengannya. Tapi, awal percakapan itu sepertinya meninggalkan bekas yang akan tetap saya ingat sampai kapanpun. Suatu persepsi dari seseorang yang lebih muda dari saya dan seseorang yang straight to the point. 

    Pagi itu adalah pagi yang saya tunggu. Meski puasa saya bolong-bolong, saya tetap saja bersemangat mengikuti shalat Ied di KBRI Denmark – Hellerup. Saya yang bergegas jalan kaki dari rumah, disambung naik kereta api, kemudian jalan kaki sambil berlari kecil, hampir saja telat mengikuti shalat berjamaah di hari istimewa itu. Tapi ternyata saya bertemu teman di perjalanan menuju KBRI. Anto, yang bersepeda menuju KBRI, langsung saya panggil dan akhirnya sambil mengobrol, kami tiba di lokasi tepat waktu. Maksud saya di sini tepat waktu, memang tepat waktu hanya beberapa menit sebelum shalat dimulai.  

    Kemudian, selesai shalat, bersalaman, cipika cipiki, foto-foto, tegur sapa dengan muslim yang belum saya kenal. Nah, sebelum shalat dimulai, tidak jauh dari tempat saya shalat, saya meilhat seseorang yang wajahnya familiar di ingatan saya. Saya memang belum pernah jumpa dia secara langsung, apalagi mengobrol. Tapi dalam hati saya sangat berniat untuk bicara dengannya setelah shalat Ied. 

   Setelah shalat akhirnya saya sapa dia duluan. „Wira, ya? Temannya Devi kan, ya?“. Dari situ obrolan berlanjut perkenalan, kemudian berfoto bersama dan berakhir di ruang makan KBRI. Menu hari itu opor ayam, sambal goreng hati, ketupat, sayur lodeh, sambal dan kerupuk. 

 

 

    Kami menyantap isi piring di halaman samping KBRI. Sambil berjemur di bawah matahari. Maklum, meski berbaju non bikini, tapi sinar matahari memang anugerah yang harus disyukuri jika berada di negara 4 musim dan minim sinarnya dalam setahun. Kembali ke Wira. Kami duduk berdua saja. Awal obrolan inilah yang membuat saya sempat syok. Tapi saya berusaha tetap tenang dan berusaha menjaga hati, pikiran, mulut dan telinga. Ya Allah, memang berat terasa jika banyak pertimbangan untuk berkata-kata, sambil mengingatkan diri sendiri untuk tetap mengingat-Mu. 

   Wira memulai obrolan sambil menyendok ketupat dan opor ayamnya, „Kamu tahu tidak? Sampai itu ke Jerman berita tentang cewek yang katanya pakai hot pants ke acara berbuka puasa di sini.“ Maksudnya KBRI Denmark. Saya langsung tanya dia, „Kamu tahu darimana?“. „Ada yang bilang ke saya orang sini. Tak ada otaknya itu cewek. Masa‘ ke acara berbuka puasa pakai hot pants. Sudah ’ndak waras dia itu hah. Memang ’ndak langsung dia yang ditegur. Tapi si Ribka yang ditegur salah seorang staf KBRI, karena si staf itu melihat cewek itu datang dengan Ribka. Kan kasihan si Ribka-nya.“ Wira bicara dengan logat Minangnya yang menurut saya masih sangat kental. Hampir 4 tahun di Eropa ternyata tidak membuat logat asli Minangnya hilang ditelan globalisasi budaya. 

     Ah … saya langsung lemas mendengar apa yang dia katakan. Pastilah si kawan yang satu itu yang dimaksud Wira tak berotak. MasyaAllah. Betapa cepatnya berita tersebar di bumi ini, ya. Saya mengira berita tak sedap didengar itu hanya akan berputar seperti gasing hanya di lingkungan warga Indonesia di Kopenhagen saja. Tapi ternyata …. Seandainyalah dia tahu, bahwa saya mengenal siapa yang dibicarakannya, maka apa pendapatnya untuk selanjutnya, ya? Kemudian Wira mengatakan pendapatnya tentang perempuan Indonesia yang telah berubah penampilannya sejak berada di Eropa. Di bagian yang ini, saya hanya akan memberi pendapat, selama itu masih di belakang garis batas kewajaran di tempat kita berada dan menghormati satu sama lain, menurut saya sah-sah saja. 

 

 

   Akhirnya, mau tak mau, suka tak suka, dengan berat hati saya mengatakan kepadanya, „Wira, saya kenal siapa yang kamu maksud pakai hot pants itu. Orangnya ada di sini. Barusan dia lewat sini. Nanti kamu saya kenalkan. Jadi begini, waktu itu dia, Ribka dan saya baru pulang dari pantai sehabis berjemur. Kemudian Ribka mengajak untuk ke KBRI. Sekedar ingin datang saja dan beramah-tamah. Nah, pas duduk di ruang makan, kakak melihat sekilas, pak Dubes melihat ke arah dia dan memperhatikan pakaiannya dari bawah ke atas. Pak Dubes langsung bisa melihat, karena dia duduk di seberang kanan pak Dubes yang hanya 2 meter jaraknya. Pastilah bisa langsung dilihat hot pants-nya. Sebelum ke buka bersama itu kakak udah ingatkan, apa gak sebaiknya kami pulang saja. Tapi sudah kadung di dekat KBRI untuk balik badan dan pulang.“ (Ah, sebenarnya bisa saja langsung balik badan dan pulang kan, ya. ). Sebenarnya saya juga merasa malu malam itu. Meski pakaian saya jauh lebih sopan, tapi tetap saja saya merasa tidak nyaman, karena teman saya itu mengenakan hot pants. Kalau saya tidak peduli orangnya, maka saya akan berpikir masa bodoh, jika sesuatu terjadi yang memalukan dirinya saat itu, karena sudah saya peringatkan sebelum memasuki KBRI. Tapi, saya adalah tipe orang yang sayang teman, peduli, dan tipe „kekakakan“. Apalagi dia itu lebih muda 3 tahun dari saya. Ah, jangankan dengan yang lebih muda, dengan yang lebih tua dari saya dan yang baru saya kenal saja, saya terkesan kok „terlalu peduli“ dengan orang. 

   Ya jadi begitu. Sekarang, yang menjadi pertanyaan saya, apakah dia sudah tidak memiliki toleransi dalam berbudaya atau memang mencaplok budaya berpakaian ala Eropa mentah-mentah? Saya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya tidak mengatakan saya sempurna dalam berpakaian, tapi di luar kebebasan saya dalam berpakaian, saya masih tetap sangat memperhatikan apa yang saya kenakan dan dimana saya akan mengenakan pakaian itu. Sederhananya, saya tidak akan memakai bikini di acara makan malam. Itu hanya pengandaian, ya. Saya sendiri sih tidak akan memakai bikini sampai kapanpun. Rasa malu saya masih „ketimuran“.  Waktu teman-teman dan saya berjemur ke pantai, mereka bertanya, „Mana bikininya, Dwi?“. „Gak punya bikini.“ Itu saja yang keluar dari mulut saya.  Saya merasa nyaman hanya mengenakan hot pants dan tank top, atau summer dress sepaha. Paling minim saya akan pakai di kolam renang. Tetap saja, saya menggunakan pakaian renang normal untuk berenang, bukan bikini. 

   Kembali ke hot pants tadi. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiran. Apakah pendidikan yang pernah dienyam seseorang PASTI akan berpengaruh pada tingkah laku seseorang dalam menghadapi situasi yang terjadi di sekitarnya atau hanya akan memberi secuil kebaikan, termasuk dalam cara berpakaian? Maksud saya, apakah pendidikan hanya memberi sedikit nilai lebih dalam hidup seseorang? Banyak orang yang saya kenal tidak selesai sekolah, putus sekolah atau memang memutuskan tidak melanjutkan pendidikan sampai tamat, tapi mereka bertingkah laku lebih dari orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Kebanyakan, ya. Saya sering tidak setuju, jika ada yang berpendapat bahwa pendidikan tidak begitu penting dalam menggembleng sifat, karakter dan tingkah laku seseorang. Saya akan tetap berpendapat, pendidikan itu penting. Titik. Namun, tidak bisa dipungkiri, jika suatu saat kita menemui seseorang yang bertitel S3 ternyata memiliki cara pandang dan cara berpikir seperti orang yang sama sekali tidak pernah duduk di bangku sekolah. Oh, kalau yang ini sudah banyak yang saya temui dimanapun. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa mengatasinya dan tetap berusaha berpikiran terbuka dengan segala kemungkinan yang menyebabkannya jadi begitu.

   Nah, pada acara Halal bi Halal di Wisma Duta KBRI hari minggu siang lalu, kembali si teman yang dibicarakan Wira mengenakan pakaian yang menurutnya masih dalam batas kesopanan, dimana setelah saya meilhatnya sendiri, masih kurang sopan. Tapi karena ini yang kedua kalinya dia begitu, jadi mulai saat ini dan untuk seterusnya saya hanya akan berpendapat, dia membutuhkan waktu dan pengalaman hidup lebih banyak untuk membuatnya berpikir, „Cara berpakaianku tidak tepat dan tidak pada tempatnya.“ Saya hanya menyayangkan satu hal, dari segi umur menurut saya dia sudah tahu apa yang disebut „berpakaian yang sesuai pada waktu dan tempatnya“. Pada saat saya akan menggantungkan jaket hujan saya di ruang penitipan jaket, saya sempat berucap, „Duh, kenapa dia pakai baju itu di acara Halal bi Halal?“. Saya mengatakan begitu, karena ada teman saya juga yang baru datang dengan mengenakan pakaian yang lebih cocok dipakai ke acara resepsi pernikahan. Kemudian dia menjawab, „Emang gak sopan dimananya, kak?“. Hmmm. Saya jadi bingung harus menjawab apa. Ah, lebih baik saya diam saja saat itu. Biarlah, jika ada yang berkomentar lagi tentang pakaian yang mereka kenakan. Saya sudah malas untuk peduli. Angkat tangan mulai sekarang. Sama-sama sudah menjadi perempuan dewasa. 

You No Longer Fit Here Anymore

        Have you ever thought that you no longer fit to live in one place? Well, I do think of that question many times. Since I was still primary school it stucked in my mind. Somehow I feel … that I don’t belong here. Or, maybe because there are dissatisfaction, disappointment and imagination. Until today, I can’t find the right words to describe it.

        Then one day in July 2010 this old Californian man read my painting. After a few minutes he told me something that wasn’t quite shocked to me. He said, „Did you always paint a house like this one?“. I wasn’t reply his question immediately. I knew it was kind of rudeness. But, I didn’t mean to be like that. I was thinking. Why? What’s wrong with my painting? Was the house, the people ( I mean my family) and the trees were not good painted? No. He didn’t say anything as I thought. He said only, „It looks, that you no longer fit to live here. You see this chimney? Where the hell you get that kind of idea to paint a chimney in an Indonesian house? You see where your family members and you stand? They all stand in front of the house, and you? You paint yourself under this tree, far from them. And you stand under a tree. A big one. Well, it’s been said in this painting. You’ll live far away from your family and your homeland. It looks like that you going to live in a cold place. Europe maybe? Or in the States?“ I was in silence in a noisy room.

       It is. Somehow, I don’t like to stay in any places in my homeland, Indonesia. I’ve met many people and they said the same thoughts. You no longer fit to live here. What they wanted to say, I have to look in me. Is this what I really want? To live here in Indonesia? Actually, no I don’t want to. It’s not that I don’t love my homeland anymore. But, there’s something that I see very clear. I am different. Different with my thoughts, opinions, way of thinking, way of life, way of treating others, more open-minded, advanced, adventurer,  more tolerance, socialized, straight-talking than most of the people in my homeland. I really don’t know where does it come from. Television? Books? Newspaper? Parents? Siblings? Neighbourhood? I don’t know. For example, in the third grade I even can spoke, understood, and remembered English words fluently. It shocked my sports teacher, because he was the only teacher in my school who can speak English. I can remembered a whole english song’s lyric. As a note, I never joined any English courses. Ok. I have to admitted that Hollywood movies gave me the best influences more than anything. Of course I learned also English at school. In my time, English only taught from middle high school until university. But now start from playgroup. Glad to hear it, honestly.

    I even talk directly with my parents and older people. But still with good manner. Most of the time. Once, when I came back from Germany for almost 2 years working there and got back to finish my college’s final task in my home city, I said to my father in front of my family when we were watching tv, that the Japanese people are good in sex. Bwoah! Hahahaha. I do speak my mind. In seconds my parents and my siblings stared at me. I can accepted their look. I knew, it is very weird and peculiar for most of the families in Indonesia and Moslem families too to talk about sex. I don’t mind if they think I’m crazy, rude, and so on. But, I speak my mind. That’s it. If there any Japanese who read this, I am so sorry. I don’t mean to underestimate certain people.

      I was so confused. Was I smart or just an ordinary girl with full of curiousity for things in the world? Never stop thinking until I’m asleep. If neighbour’s kids playing outside in sunday morning, I watched cartoons and other kids channel from 6 until 12 am. If other kids watched cartoons, I prefered to watch tv shows with animal,  musics, technics, cooking, news from foreign countries. When my father never stop complained why all the tv channels were gone everytime he turned on the tv again, I always tried to find out what for all those buttons that attached to the television. It was from my house, how it begun to watch 2 other national private television station. Then the neighbours came and wanted to know how I found it. When my father only wanted to use his tape deck, well … I wanted to know how it works and find out what is the function of all small parts of it. Until the inside parts. That’s me.

   Before I flew to Copenhagen for working, I heard something not really shocked thing from my aunty. She said to me, „When your younger sister was here, she said that you no longer fit to live here.“ I can’t say nothing more but smiled. I asked her, what does my sister meant by saying something like that? She didn’t know exactly either.

     Another time, a friend of my aunty said, „Just look at her (he means me to her wife). Her haircut so short like a man. Her style is different. In her age and she’s still not getting married.“ I was just laughing out loud. Well, It’s not that I don’t want to get married. But I just haven’t found my soulmate. I can’t marry a man, if I don’t have chemistry with him. Okay. That’s another story.

Image
waiting a night bus in Ramadhan in Jakarta was quite … amazing 😀

    Then, a Danish man said, „You are an open-minded person, not like the others from your country or from Asia.“ Hmmm. Ok. Accepted. But, my question is, for this kind of job, what kind of person you need? A close-minded and robotic person? Please, do not underestimate Asian, especially women from South East Asia.

    And the last person asked me, „Don’t you want to go to United States?“. I looked at him, smiled and said, „Yes, I do. I want it really bad. I want to go to Alaska.“

      I want you to know, Skat. I will go, wherever you will go. I want to live in a place, where my mind, my body and soul are fit in. I still don’t know where is the place. But, I’ll know, if I feel and connected with that place.

Image
The woods nearby Virum Train Station, Denmark

How To Prove That You’re Wrong?

         I’ll start with these words he said almost 2 months ago. „I think, it is better for you to marry Bule, because they“re gladly cook for their wifes ….“

….

          Yes. I was shocked hearing his words. Honestly, I really disappointed with what he said to me in the kitchen. Just because I cooked only rice and he cooked Chicken Corn Soup, it doesn’t mean he can say that to me or to anyone. It doesn’t mean he allowed to underestimate me. But, as usual I took his words just like that. What I actually tought after that was, how can I prove that what he said about me was a mistake? That I can’t cook, at all? I pray to God many times, oh yes I prayed often since then, that I will get a chance one day to cook for him and eat with him in the same table. Alhamdulillah! That day came. I cooked rice and hot mackerel with tomato sauce. For the desserts I gave him sweet mango slices. Big slices I mean. Though I was a little bit pushy to him to finish all the food I served. It was all done! Well, not all. He left for me a little. It was completely okay, because that wasn’t the point. I just want to prove that I can cook. That’s all.

Image
my Salmon Tom Yum Gong

       Then the question was said. „You cooked often here?“ Huh! Finally you asked me that question. Feel so happy. I wish you know how happy I was just to hear your question. It showed me, that you are wrong. You’ve misjudged me, Skat.

        I don’t mean to be a bad or rude person, but I always try to prove that someone is wrong about me. I don’t cook in front of you, doesn’t mean I can’t cook at all. I think it’s my habit to prove people that they’re wrong and I’m right. Most of the times. ^^ They just don’t know many things about me. That’s all.

Ps:

Bule = it’s Indonesian word to name foreigner with white skin and blonde hair.

Skat = it’s Danish word like „Dear“.

2 Bule

               Wah! Dari tadi malam saya terkejut. Bukan karena hal yang wah juga. Tapi karena sewaktu saya buka pintu rumah saya yang baru ini, ternyata ada seorang bule yang „like“ blog saya yang berjudul „Tes Tes Tes“. Setelah saya cek keberadaannya, dia tinggal di Rumania. Hmmm. Apa yang membuat saya heran, dia suka dengan blog saya itu. Padahal judul blog saya itu saja berbahasa Indonesia. Aneh.

                  Nah, beberapa menit barusan saya buka lagi WP saya. Tak disangka tak diduga, ada bule lain yang suka dengan blog saya yang berjudul „Bertikai Dengan Windows 7 Starter“.

                Ah. Benar-benar aneh. Tapi ya sudahlah. Saya senang ada yang suka dengan tulisan saya.