Begitu Dekatnya Aku Dengan Kematian

Malam sekitar 15 tahun lalu, seorang anak perempuan usia remaja itu berdiri terdiam di depan pintu kamar mandi di dalam rumahnya. Dia masih berdiri tak bergerak dari atas keset pintu kamar mandi, sambil memperhatikan acara televisi yang tak membuatnya tertarik sedikitpun. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan.

“Uwaaaakkkkk! Uwaaaakkkkk! Uwaaaakkkkk! Orang itu, wak! Orang itu!!! Orang itu mau perang!!”, teriak seseorang di luar pagar depan rumah.

Anak itu mulai merasakan kekhawatiran yang melebihi apapun yang pernah dikhawatirkannya selama ini dan tak dapat lagi dia jelaskan. Perang? Dimana? Siapa yang berperang? Kapan? Secepat kilasan waktu pikirannya mulai berlari ke sana kemari.

Kemudian dia melihat kedua orangtuanya berlari ke depan rumah dan dengan nada tinggi karena tak percaya dengan kata-kata orang itu ayahnya bertanya bertubi-tubi, “Siapa mau perang?!! Apanya kau ini??? Masih maghrib gini kau teriak-teriak di depan rumah orang ngomong perang perang perang!!! Siapa yang perang?!!!”. “Iya, wak!!! Awak gak bohong, wak!! Banyak orang kumpul di lapangan bawah bawa banyak parang!!! Preman-preman sini orang itu, wak!!! Cepatlah uwak ikut ke sana, wak! Biar uwak liat sendiri yang ku bilang!”

“Buka pagar ini biar ku lihat ke sana!”, kata ayahnya kepada ibu anak itu. Tapi dengan memelas si ibu mencoba mencegah, agar suaminya tak pergi kemanapun saat itu. Sedangkan anak perempuan itu terpaku mencoba memahami situasi saat itu. Benarkah akan terjadi peperangan di daerah tempat dia tinggal? Dia tak berkata apapun kepada ayahnya.  Kemudian tanpa sadar dia mengikuti langkah ayahnya kemanapun di dalam rumah. Dia membayangkan, apa yang akan dilakukan ayahnya atas kekacauan yang akan terjadi malam itu. Bahkan saat ayahnya berkata, “Coba kau ambil tombak besi dan bambu Cina itu dari balik pintu, kak!”. Seketika itu juga ibunya membentaknya, “Jangan kau ambil, kak! Ngapain ikut-ikutanlah sama orang itu. Masih sayang nyawa atau gak?!”. Tapi karena dia disuruh ayahnya mengambil tombak besi rujung runcing dan bambu Cina yang tebal dan berat itu, akhirnya dia mengambil juga dari balik pintu kamar tidur orang tuanya. Tiba-tiba datang seorang tetangga, teman ayahnya. “Bang! Cepat, bang! Orang kampung udah ke sana semua.!”. Dari dalam rumah ibu anak itu berkata, “Ngapainlah ke sana udah tua-tua gini??? Kenapa gak lapor Polsek sini aja? Biar aja orang itu yang urus!”. Tapi anak itu melihat ayahnya pergi ke luar dengan tetangga itu, sementara ibunya juga pergi keluar tapi entah kemana. Anehnya, saat ibunya keluar dia tak merasakan harus mengikuti ibunya, melainkan ayahnya yang ada dipikirannya saat itu juga. Rumah hening beberapa saat. Kemudian sesuatu seperti membisikkan di telinganya untuk keluar mengejar ayahnya detik itu juga. Tanpa berpikir lagi dia berlari keluar rumah dan mencari ayahnya. Tanpa alas kaki. Tanpa ada satupun pikiran lain di kepalanya selain mencari ayahnya. Dia berlari mencari ayahnya di gang-gang tetangga dan tak menemukan sosok ayahnya. Kemudian dia berlari ke gang sebelah dan menuju ke rumah kawan ayahnya yang datang ke rumah. “Ibu lihat ayahku? Ayahku kemana tadi, bu’?”. Si ibu menjawab, “Ayahmu ke lapangan sana!”. Dia berlari ke arah lapangan bola voli yang penuh dengan semak-semak di sana sini. Seketika dia berhenti berlari dan melihat begitu banyak laki-laki seumuran ayahnya dan laki-laki muda yang belum pernah dia lihat sebelumnya membawa parang dan senjata tajam lainnya di tangan mereka masing-masing. Sekitar 100 orang. Tapi dia tak merasakan apapun. Dia masih hanya terdiam di pinggir jalan. Sambil mencari dimanakah ayahnya? Semua orang mulai berteriak dan saling menolak dada laki-laki lain di depannya. Akhirnya dia mendengar suara ayahnya yang mencoba melerai 2 laki-laki dengan senjata tajam di tangan mereka yang adu mulut dan berdiri terlalu dekat. Entah apa yang terjadi, hanya dalam sepersekian detik dia melihat sosok ayahnya yang berlari ke arah jalanan menuju rumah. Dalam kegelapan malam anak perempuan itu berlari ke arah rumahnya kembali. Dia mengejar ayahnya. Hanya ayahnya.

Namun, saat dia mengejar ayahnya, dia mendengar seorang laki-laki bersenjata tajam mengatakan, “Kemana dia lari?! Biar ku bacok kepalanya sampe putus! Kau cari dia sampek dapat!”. Mereka akan membunuh ayahnya saat itu juga! Tanpa sadar anak itu mendekati laki-laki itu, “Jangan, om…itu ayahku, jangan om…”. Secepat kilat tangan kiri laki-laki itu mencekik erat leher anak perempuan itu dengan lengannya. “Diam kau! Mau ku hajar juga kau?! Mau mati juga kau sekarang ku buat?!”. Entah mengapa anak itu tidak merasakan takut pada laki-laki itu dan hanya menatap mata laki-laki itu dengan kesedihan teramat sangat karena belum ingin kehilangan ayahnya. Dia melihat dalam kegelapan, laki-laki itu mengangkat tangan kanannya yang menggenggam batu bata. Kemudian dia mendengar, “Jangan! Gila kau?! Itu anak perempuan.” Tangan laki-laki itu ditahan laki-laki yang satu lagi. Tiba-tiba dia mengucapkan, “Astaghfirullah!” dan melepaskan lengannya dari leher anak itu, melepaskannya dan pergi. Saat semua orang berlari ke sana kemari, anak perempuan itu pun berlari lagi mencari ayahnya. Namun, tiba-tiba dia berhenti di depan rumah tetangganya dan terkejut saat melihat ibunya berdiri di teras rumah itu sambil memeluk dadanya dengan erat, seperti orang kedinginan. Ibu pemilik rumah memeluk pundak ibunya. Dia melihat sekilas mata ibunya saat itu. Ada kekhawatiran yang teramat sangat dari dalam kedua mata tua itu. Air mata terlihat akan jatuh dari pelupuk matanya. Dia pun mulai berlari lagi mengejar ayahnya yang sudah entah kemana. Dia masuk kembali ke rumahnya dan berteriak, “Ayah! Ayah! Ayah!”. Rumahnya ditinggalkan kosong. Bahkan kakak dan kedua adiknya entah kemana. Dia berlari lagi keluar rumah dan menuju jalan pertigaan. Dia berdiri di tengah jalan dan berputar-putar, mencoba menerka dimanakah ayahnya saat itu. Kemudian dia masuk ke rumah salah satu tetangga di pertigaan itu dan bertanya, “Om, ayah mana? Om lihat ayahku?”. Mereka mengatakan ayah anak perempuan itu baru saja lari keluar ke rumah tetangga di depan rumah mereka. Anak itu berlari lagi keluar dan saat akan menuju rumah tetangga itu, dia melihat si ibu yang punya rumah itu. “Ibu lihat ayahku kemana?”. Si ibu yang berdiri di depan pagarnya yang hampir tertutup rapat tersenyum sambil memberi isyarat kepada anak itu untuk diam. Dia meletakkan jari telunjuk kanannya di bibirnya. Di belakang anak perempuan itu, beberapa orang laki-laki mulai berdatangan dan mendatangi setiap orang yang mereka lihat, dimana ayah anak itu bersembunyi. Mereka mencoba memasuki rumah-rumah itu, tapi tak berhasil, karena semua pemilik rumah menutup pagar dan mengunci pintu. Mereka berteriak-teriak di jalan akan membunuh ayah anak itu, kalau sampai mereka melihatnya dan mereka pun pergi entah kemana dan tak kembali. Setelah beberapa saat tak ada seorangpun dari mereka yang kembali, akhirnya anak itu masuk ke rumah ibu itu dan melihat ayahnya yang terduduk kaku dan pucat. Kemudian mereka pulang ke rumah mereka. Anak perempuan itu masih dalam diam dan mengikuti ayahnya dari belakang tanpa suara.

 

Dan setiap detik dari apa yang terjadi malam itu masih diingat anak perempuan itu. Meski ingin melupakan, akhirnya dia menyadari dan memahami, bahwa itu bukan jalan terbaik untuk mengatasi kenangan buruknya, melainkan dengan menerima semuanya dengan ikhlas, seiring dengan waktu berlalu.

 

 

 

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s