Hot Pants di Acara Berbuka Puasa

    Saya tidak tahu harus memulai darimana. Saya inginnya menanyakan kepadanya, „Pernah bersekolah tidak, sih?“. Tapi saya urungkan, karena saya selalu ingin tetap berpikiran terbuka, bahwa tidak semua orang yang pernah mengenyam pendidikan akan berpikir dan bertindak layaknya seseorang yang pernah mengenyam pendidikan. Tidak adil baginya, jika saya menilainya dari segi pendidikan. Tapi, lagi dan lagi, pendidikan, pengalaman dan hasil pengamatan saya terhadap lingkungan di sekitar saya membuktikan apa yang sudah saya perkirakan akan terjadi. Pendidikan memang penting demi memberi kebaikan dan pelajaran penting bagi kehidupan setiap manusia di bumi. (Berat juga kata-kata saya, ya ) Semoga sesuatu terjadi pada dirinya dan memberikan hikmah seumur hidupnya.  

…. 

  Jadi, ini sepenggal percakapan saya dengan salah seorang teman baru, putri Minang, dari Jerman. Itu pertama kalinya saya melihat wajahnya langsung dan mengobrol dengannya. Tapi, awal percakapan itu sepertinya meninggalkan bekas yang akan tetap saya ingat sampai kapanpun. Suatu persepsi dari seseorang yang lebih muda dari saya dan seseorang yang straight to the point. 

    Pagi itu adalah pagi yang saya tunggu. Meski puasa saya bolong-bolong, saya tetap saja bersemangat mengikuti shalat Ied di KBRI Denmark – Hellerup. Saya yang bergegas jalan kaki dari rumah, disambung naik kereta api, kemudian jalan kaki sambil berlari kecil, hampir saja telat mengikuti shalat berjamaah di hari istimewa itu. Tapi ternyata saya bertemu teman di perjalanan menuju KBRI. Anto, yang bersepeda menuju KBRI, langsung saya panggil dan akhirnya sambil mengobrol, kami tiba di lokasi tepat waktu. Maksud saya di sini tepat waktu, memang tepat waktu hanya beberapa menit sebelum shalat dimulai.  

    Kemudian, selesai shalat, bersalaman, cipika cipiki, foto-foto, tegur sapa dengan muslim yang belum saya kenal. Nah, sebelum shalat dimulai, tidak jauh dari tempat saya shalat, saya meilhat seseorang yang wajahnya familiar di ingatan saya. Saya memang belum pernah jumpa dia secara langsung, apalagi mengobrol. Tapi dalam hati saya sangat berniat untuk bicara dengannya setelah shalat Ied. 

   Setelah shalat akhirnya saya sapa dia duluan. „Wira, ya? Temannya Devi kan, ya?“. Dari situ obrolan berlanjut perkenalan, kemudian berfoto bersama dan berakhir di ruang makan KBRI. Menu hari itu opor ayam, sambal goreng hati, ketupat, sayur lodeh, sambal dan kerupuk. 

 

 

    Kami menyantap isi piring di halaman samping KBRI. Sambil berjemur di bawah matahari. Maklum, meski berbaju non bikini, tapi sinar matahari memang anugerah yang harus disyukuri jika berada di negara 4 musim dan minim sinarnya dalam setahun. Kembali ke Wira. Kami duduk berdua saja. Awal obrolan inilah yang membuat saya sempat syok. Tapi saya berusaha tetap tenang dan berusaha menjaga hati, pikiran, mulut dan telinga. Ya Allah, memang berat terasa jika banyak pertimbangan untuk berkata-kata, sambil mengingatkan diri sendiri untuk tetap mengingat-Mu. 

   Wira memulai obrolan sambil menyendok ketupat dan opor ayamnya, „Kamu tahu tidak? Sampai itu ke Jerman berita tentang cewek yang katanya pakai hot pants ke acara berbuka puasa di sini.“ Maksudnya KBRI Denmark. Saya langsung tanya dia, „Kamu tahu darimana?“. „Ada yang bilang ke saya orang sini. Tak ada otaknya itu cewek. Masa‘ ke acara berbuka puasa pakai hot pants. Sudah ’ndak waras dia itu hah. Memang ’ndak langsung dia yang ditegur. Tapi si Ribka yang ditegur salah seorang staf KBRI, karena si staf itu melihat cewek itu datang dengan Ribka. Kan kasihan si Ribka-nya.“ Wira bicara dengan logat Minangnya yang menurut saya masih sangat kental. Hampir 4 tahun di Eropa ternyata tidak membuat logat asli Minangnya hilang ditelan globalisasi budaya. 

     Ah … saya langsung lemas mendengar apa yang dia katakan. Pastilah si kawan yang satu itu yang dimaksud Wira tak berotak. MasyaAllah. Betapa cepatnya berita tersebar di bumi ini, ya. Saya mengira berita tak sedap didengar itu hanya akan berputar seperti gasing hanya di lingkungan warga Indonesia di Kopenhagen saja. Tapi ternyata …. Seandainyalah dia tahu, bahwa saya mengenal siapa yang dibicarakannya, maka apa pendapatnya untuk selanjutnya, ya? Kemudian Wira mengatakan pendapatnya tentang perempuan Indonesia yang telah berubah penampilannya sejak berada di Eropa. Di bagian yang ini, saya hanya akan memberi pendapat, selama itu masih di belakang garis batas kewajaran di tempat kita berada dan menghormati satu sama lain, menurut saya sah-sah saja. 

 

 

   Akhirnya, mau tak mau, suka tak suka, dengan berat hati saya mengatakan kepadanya, „Wira, saya kenal siapa yang kamu maksud pakai hot pants itu. Orangnya ada di sini. Barusan dia lewat sini. Nanti kamu saya kenalkan. Jadi begini, waktu itu dia, Ribka dan saya baru pulang dari pantai sehabis berjemur. Kemudian Ribka mengajak untuk ke KBRI. Sekedar ingin datang saja dan beramah-tamah. Nah, pas duduk di ruang makan, kakak melihat sekilas, pak Dubes melihat ke arah dia dan memperhatikan pakaiannya dari bawah ke atas. Pak Dubes langsung bisa melihat, karena dia duduk di seberang kanan pak Dubes yang hanya 2 meter jaraknya. Pastilah bisa langsung dilihat hot pants-nya. Sebelum ke buka bersama itu kakak udah ingatkan, apa gak sebaiknya kami pulang saja. Tapi sudah kadung di dekat KBRI untuk balik badan dan pulang.“ (Ah, sebenarnya bisa saja langsung balik badan dan pulang kan, ya. ). Sebenarnya saya juga merasa malu malam itu. Meski pakaian saya jauh lebih sopan, tapi tetap saja saya merasa tidak nyaman, karena teman saya itu mengenakan hot pants. Kalau saya tidak peduli orangnya, maka saya akan berpikir masa bodoh, jika sesuatu terjadi yang memalukan dirinya saat itu, karena sudah saya peringatkan sebelum memasuki KBRI. Tapi, saya adalah tipe orang yang sayang teman, peduli, dan tipe „kekakakan“. Apalagi dia itu lebih muda 3 tahun dari saya. Ah, jangankan dengan yang lebih muda, dengan yang lebih tua dari saya dan yang baru saya kenal saja, saya terkesan kok „terlalu peduli“ dengan orang. 

   Ya jadi begitu. Sekarang, yang menjadi pertanyaan saya, apakah dia sudah tidak memiliki toleransi dalam berbudaya atau memang mencaplok budaya berpakaian ala Eropa mentah-mentah? Saya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saya tidak mengatakan saya sempurna dalam berpakaian, tapi di luar kebebasan saya dalam berpakaian, saya masih tetap sangat memperhatikan apa yang saya kenakan dan dimana saya akan mengenakan pakaian itu. Sederhananya, saya tidak akan memakai bikini di acara makan malam. Itu hanya pengandaian, ya. Saya sendiri sih tidak akan memakai bikini sampai kapanpun. Rasa malu saya masih „ketimuran“.  Waktu teman-teman dan saya berjemur ke pantai, mereka bertanya, „Mana bikininya, Dwi?“. „Gak punya bikini.“ Itu saja yang keluar dari mulut saya.  Saya merasa nyaman hanya mengenakan hot pants dan tank top, atau summer dress sepaha. Paling minim saya akan pakai di kolam renang. Tetap saja, saya menggunakan pakaian renang normal untuk berenang, bukan bikini. 

   Kembali ke hot pants tadi. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiran. Apakah pendidikan yang pernah dienyam seseorang PASTI akan berpengaruh pada tingkah laku seseorang dalam menghadapi situasi yang terjadi di sekitarnya atau hanya akan memberi secuil kebaikan, termasuk dalam cara berpakaian? Maksud saya, apakah pendidikan hanya memberi sedikit nilai lebih dalam hidup seseorang? Banyak orang yang saya kenal tidak selesai sekolah, putus sekolah atau memang memutuskan tidak melanjutkan pendidikan sampai tamat, tapi mereka bertingkah laku lebih dari orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Kebanyakan, ya. Saya sering tidak setuju, jika ada yang berpendapat bahwa pendidikan tidak begitu penting dalam menggembleng sifat, karakter dan tingkah laku seseorang. Saya akan tetap berpendapat, pendidikan itu penting. Titik. Namun, tidak bisa dipungkiri, jika suatu saat kita menemui seseorang yang bertitel S3 ternyata memiliki cara pandang dan cara berpikir seperti orang yang sama sekali tidak pernah duduk di bangku sekolah. Oh, kalau yang ini sudah banyak yang saya temui dimanapun. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa mengatasinya dan tetap berusaha berpikiran terbuka dengan segala kemungkinan yang menyebabkannya jadi begitu.

   Nah, pada acara Halal bi Halal di Wisma Duta KBRI hari minggu siang lalu, kembali si teman yang dibicarakan Wira mengenakan pakaian yang menurutnya masih dalam batas kesopanan, dimana setelah saya meilhatnya sendiri, masih kurang sopan. Tapi karena ini yang kedua kalinya dia begitu, jadi mulai saat ini dan untuk seterusnya saya hanya akan berpendapat, dia membutuhkan waktu dan pengalaman hidup lebih banyak untuk membuatnya berpikir, „Cara berpakaianku tidak tepat dan tidak pada tempatnya.“ Saya hanya menyayangkan satu hal, dari segi umur menurut saya dia sudah tahu apa yang disebut „berpakaian yang sesuai pada waktu dan tempatnya“. Pada saat saya akan menggantungkan jaket hujan saya di ruang penitipan jaket, saya sempat berucap, „Duh, kenapa dia pakai baju itu di acara Halal bi Halal?“. Saya mengatakan begitu, karena ada teman saya juga yang baru datang dengan mengenakan pakaian yang lebih cocok dipakai ke acara resepsi pernikahan. Kemudian dia menjawab, „Emang gak sopan dimananya, kak?“. Hmmm. Saya jadi bingung harus menjawab apa. Ah, lebih baik saya diam saja saat itu. Biarlah, jika ada yang berkomentar lagi tentang pakaian yang mereka kenakan. Saya sudah malas untuk peduli. Angkat tangan mulai sekarang. Sama-sama sudah menjadi perempuan dewasa. 

Advertisements

4 Antworten auf “Hot Pants di Acara Berbuka Puasa”

  1. Ehem, dari pengalaman, saya malah sering bertemu yg walau pendidikannya tinggi tp tetap etiketnya jelek. Tampaknya kembali ke pribadi orang per orang, kalau tipe yg peduli dengan sekitarnya biasanya cepat belajar menerapkan etiket dalam kehidupan sehari-hari.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s