Blogging

Xenophobia: No Entry For Coloured Skin!

 „Sumpah gw gak akan ke bar itu lagi! Bar rasis!“, teman saya Yani dengan kesalnya berkata begitu saat kami makan di sebuah restoran Kebab di Walking Street Nørreport sebulan lalu. Sampai sekarang kata-katanya masih saja terngiang dia telinga saya. Tapi dengan santai saya membalas pernyataannya. „Memang kalau belum mengalami, tidak akan tahu.“ Ups! Saya tak perlu melihat ekspresi wajah teman-teman saya, tapi saya tahu mereka langsung terdiam mendengar kata-kata saya. Sepertinya kalimat saya mengena di hati mereka semua. Apalagi Yani, saya tahu dia langsung terdiam mendengar saya berkata begitu. Tapi saya yakin benar, sekali ini dia mengalaminya sendiri.
Jadi begini, sekitar sebulan yang lalu teman-teman saya dan saya pergi ke bar, Miami Bar. Yani, teman saya itu sudah pernah ke bar itu sebelumnya dan katanya cukup nyaman, karena bar tersebut juga menyediakan sofa yang empuk. Mungkin demi rasa nyaman pengunjungnya. Akhirnya kami masuk dan memesan minuman. Tidak lama kemudian Yani pergi keluar, karena ada beberapa orang temannya juga ingin menikmati malam minggu di bar itu. Tapi, sekitar setengah jam kemudian dia kembali dengan wajah kesal dan mengeluh panjang kali lebar tentang pelayanan di bar itu.
Ternyata terjadi sesuatu di depan pintu masuk bar. Tiga orang temannya tidak diizinkan masuk ke dalam bar! Wow! Saya cukup terkejut, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi di bar di kota ini. Kemudian dia bercerita dengan cepat dan kekesalan yang memuncak. 3 orang temannya itu adalah laki-laki yang berasal dari 3 negara yang berbeda. Satu orang dari Swedia, seorang dari Portugal dan seorang lagi dari India.
Nah, apa penyebab sehingga mereka tidak diizinkan masuk ke dalam bar? Warna kulit, kata Yani. Iya. Warna kulit salah satu dari merekalah yang menjadi penyebab, mengapa mereka tidak diizinkan memasuki bar itu. Penjaga pintu yang mengawasi di depan pintu mengatakan, sudah cukup „orang dengan kulit berwarna“ di dalam bar. Yani heran. Orang dengan kulit berwarna yang dimaksud si penjaga pintu yang mana? Karena ada banyak tamu yang masuk dengan kulit berwarna. Kebanyakan berkulit cokelat khas timur tengah dan dari wajahnya kelihatan sekali. Ternyata teman-teman dan sayalah yang berkulit berwarna, yang dimaksud si penjaga dan si manajer bar. Nasib. Saya hanya bisa tersenyum miris mendengar penjelasan Yani. Perasaan saya langsung datar. Minuman, musik, obrolan dan teman-teman di sekitar saya membuat saya hilang semangat. Ditambah lagi seorang teman saya terkilir kakinya di toilet bar, yang saya yakin karena dia mabuk, tapi tidak sadar dia mabuk dan ternyata tidak kuat minum.
Jadi, intinya adalah karena teman-teman Yani kulitnya berwarna. No entry for coloured skin! Seharusnya kalimat itu dipampangkan pihak manajemen bar di depan pintu masuk. Mengapa 3 orang teman Yani tidak diizinkan memasuki bar, adalah karena temannya yang berasal dari India itu berkulit „berwarna“.  Sangat disayangkan memang. Negara dengan penduduk pendatang sebanyak ini, masih saja memberlakukan kalimat penolakan seperti itu. Mengapa pihak manajemen tidak mengatakan saja, „Sudah terlalu banyak pengunjung di dalam bar.“. Kedengarannya lebih bisa diterima telinga, kan? Kami sempat berdiskusi kecil, mengapa si penjaga pintu mengatakan peraturan tersebut, sedangkan dia sendiri berkulit hitam. Tapi Yani berpendapat, peraturan itu dibuat karena ketiga temannya adalah laki-laki. Sedangkan jika pengunjungnya perempuan berkulit berwarna, maka tetap akan diizinkan masuk, karena kami semua perempuan. Perempuan yang banyak masuk juga akan menarik para tamu lelaki yang akan mentraktir minuman untuk para perempuan yang disukai mereka. Hmmm. Masuk akal juga.
Tapi ya begitulah yang terjadi dan sepertinya akan sering terjadi kedepannya di berbagai tempat dimanapun kita semua berada.
Akhirnya kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan teman saya yang terkilir kakinya ditemani teman saya yang lain sampai ke rumahnya. 
Jujur saja. Sampai detik ini saya masih terheran-heran meski di dalam pikiran saja. Mengapa masalah-masalah seperti ini masih saja sering terjadi di benua yang katanya menunjung tinggi hak asasi manusia. Paham Apartheid tak digubris lagi. Namun kenyataan yang saya lihat, dengar dan alami sendiri mengatakan sebaliknya. Apa harapan saya terlalu tinggi akan kecerdasan manusia di benua ini atau apa, ya? 
Saya juga pernah mendengar teman saya yang juga Au Pair menceritakan pengalamannya di ibukota negara ini. Jadi, saat dia memasuki salah satu toko jam sangat terkenal seantero bumi, yang berasal dari Denmark, dia mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Meski perlakuan itu tidak secara verbal diperlihatkan pelayan toko jam tersebut. Teman saya bilang, si pelayan bertanya dengan sopan kepada teman saya, tapi mimik wajahnya menunjukkan sesuatu yang berbeda dari yang dia ucapkan. Apalagi ditambah dengan pandangan melihat penampilan teman saya dari atas ke bawah dan dia selalu diikuti si pelayan kemanapun teman saya ini bergerak di dalam toko. Dipastikan siapapun yang diperlakukan seperti itu tidak akan merasa nyaman. Jika awalnya memang berniat untuk membeli barang di toko itu, maka kemungkinan besar tidak akan jadi membeli dan langsung keluar dari toko tersebut. Tapi teman saya itu memang berniat membeli, jadi ya dipastikan hal itu merubah cara pandang si pelayan toko atas teman saya.
Menurut saya, memang dibutuhkan hati dan pikiran yang jauh lebih terbuka dalam menghadapi perbedaan dalam bentuk apapun di dunia ini. Bukan hanya warna kulit. Sedangkan menghadapi seseorang atau kelompok yang berasal dari bangsa dan negara sendiri saja saya sering kali menghadapi xenofobia. Tapi yang utama menghadapi xenofobia ini mungkin adalah dengan memiliki persiapan yang cukup. Seperti mencari informasi sebanyak mungkin tentang sifat dan karakter masyarakat di suatu tempat. Menjadi pendengar yang baik juga penting menurut saya. Dimulai dari belajar menjadi pendengar yang baik, insyaAllah akan menjadi lebih sabar dalam menghadapi masalah xenofobia ini. Semoga, ya. 
Tulisan ini saya posting pada tanggal 4 April 2012, 4:17 PM, waktu Kopenhagen. Saya pindahkan dari rumah saya yang lama di http://www.seestern2.multiply.com
Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s