Aturlah Kemarahanmu Sebisamu

Aturlah kemarahanmu. Memangnya bisa? Menurut saya, bisa saja.

Ini adalah apa yang saya alami di pagi dua hari yang lalu….

Pagi. Saya mulai dengan menyetrika pakaian. Mau bersihkan dapur. Hostfamily saya belum pada sarapan. Jadi saya kerjakan yang bisa dikerjakan lebih dulu. Pintar-pintarlah mengatur ulang jadwal kegiatan tiap harinya. Sepertinya begitu yang harus saya lakukan selama 2 minggu ini.

Kemudian Signe bangun dan sudah berselimut di depan televisi di ruang khusus anak-anak.

Tidak berapa lama kemudian bel pintu rumah berbunyi. Awalnya Signe langsung lari ke pintu. Tapi saya lihat dia lari dan masuk kembali ke ruang anak-anak. Jadi, saya yang ke pintu. Saya melongok keluar. Ternyata ada seorang pria setengah abad berjalan ke arah jalan kembali. Saya pikir, itu tukang sampah. Tapi kenapa ke rumah? Kenapa di hari kamis pagi? Padahal jadwal mereka menyamperi tiap rumah adalah hari senin subuh.

Akhirnya saya masuk lagi ke kamar saya dan melanjutkan yang sedang saya kerjakan sebelumnya. Beberapa saat kemudian saya dengar suara kaki Morten bergegas menuruni tangga. Sekilas saya mendengar dia ke dapur, sambil mengatakan sesuatu ke Signe, tapi nama saya juga disebut. Ada apa, ya? Kenapa nama saya juga disebut-sebut?

Tiba-tiba dia teriak memanggil nama saya dengan intonasi yang sudah dipastikan bisa membuat orang yang mendengarnya langsung syok jantung dan memutuskan konsentrasi dari apapun yang sedang dilakukan saat itu juga. Kemudian dia bertanya, „Do you see where the car key?!“. Entah karena saya syok mendengar suaranya atau karena otak saya mulai menganalisa apa yang terjadi sampai dia harus memanggil saya dengan berteriak seperti itu, saya jawab, „No.“ Saya menjawab pertanyaannya dengan sangat datar dan biasa saja. #huhuhuhu. What happened to me? Actually I want to cry, because I was schocked, sad, dissapointed, pisted off. Tapi sepertinya semua itu terkalahkan oleh analisa di otak saya…. Saya mendengar di depan pintu dia menggeram dan ngedumel sendirian. Dia obrak abrik lemari kecil tempat charger hp, kabel iPhone, kunci-kunci rumah dan pernak pernik kecil yang saya belum tahu sampai saat ini untuk apa. Saat semua isi di hati dan pikiran saya bercampur aduk. Saya jadi tahu mengapa si bapak yang saya kira tukang sampah dan mengapa Morten mencari kunci mobil saat itu juga, adalah karena dia harus memindahkan mobil dari jalan. Ternyata si bapak itu harus mengangkut semua batu untuk pekarangan yang telah dibongkar dan disusun Morten di depan mobil. Bukannya saya meremehkan kecerdasannya, tapi kenapa tidak dipersiapkannya dari kemarin malam untuk memindahkan mobil. Kalau dia toh tahu, si bapak tukang angkut itu akan mengangkut batu taman itu keesokan harinya. Entah itu jam berapapun datangnya. Be prepared is the whole point! Pada saat itu pula saya YAKIN sekali, kunci mobil terbawa di dalam tas tangan Sofie ke kantornya. Olala!

Akhirnya saya berusaha menenangkan hati dan pikiran. Inhale exhale, kata mbak Yeyen. Saya melanjutkan menyetrika. Dari pintu kamar saya, saya melihat di kejauhan, tergeletak tumpukan kabel-kabel charger di atas lantai kayu. Duh! Saya tidak peduli dia mau mengobrak-abrik isi rumahnya. Tapi mbok ya tolong dirapikan kembali. I’m not a housemaid. I’m here for this job just „to help“. Just as the third hand. I can’t and won’t do the same thing more than once in the same day. Pada saat itu juga, saya langsung berpikir. Come on! You’re an educated person and much older than me, but you ask me something that way? With that toned? Maaf, tapi saya harus mengatakan. You’re no better person than I am.

Seharian kami tidak berbicara. Bukan karena saya tidak mau menyapanya, tapi karena kami bekerja. Saya mengerjakan kewajiban saya di rumah ini dan dia bekerja di ruang televisinya. Sementara Signe asyik di depan televisinya seharian. Sepanjang hari banyak hal berseliweran di dalam hati dan pikiran saya. Apakah harus saya konfrontasi ataukah bagaimana? Akhirnya saya mengambil keputusan, Ya Allah, sabar-sabarkanlah hambamu ini di sini. Semoga hari ini terlewati tanpa keburukan emosi kami.

Jam berlalu. Sampai pada saat saya mengangkat jemuran kecil di luar, dari dalam dapur saya mendengar Morten mengatakan sesuatu pada saya. Karena saya kurang mendengar apa yang dikatakannya dengan jelas, saya tanya lagi, „Pardon?“. „Have some dinner.“, katanya. Saya jawab saja, „Yes, thank you.“.

Hmmm. Sepertinya dia berusaha meminta maaf dengan cara itu. Huff. Laki-laki dimana-mana sama saja. Susah benar mengatakan minta maaf. Meski saya tidak terlalu ingin memperpanjang permasalahan yang mungkin dianggapnya sepele, tapi bagi saya masalah besar, saya berusaha lebih „waras“. Seandainya saja di saat itu juga saya kelepasan juga. Sudahlah. Sudah dipastikan akan terjadi perang dunia ketiga. Lagi dan lagi. Saya masih berusaha menahan diri untuk tidak meluapkan kemarahan saya, karena di rumah ada Signe. Saya memang kurang bisa mengatur perasaan saat berbicara dalam keadaan beremosi. Kalaupun saya bisa melakukannya, percayalah. I do it with all my strength to say each word.

Ah sudahlah. Hal terpenting bagi saya sekarang adalah, meski tidak harus dikatakan ke kedua belah pihak, saya hanya berharap dia menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya. Intinya hanya harus sama-sama sadar diri. Tidak ada yang merasa lebih di atas. Meski ya saya merasa hal itu tidak mung
kin 100 % tercapai, karena beda bangsa, beda cara berpikir dan beda budaya. Eh, satu lagi. Beda pengalaman.

….

Saya sering kali berpikir. Apakah karena banyak sekali perbedaan di antara bangsa Eropa dan Asia mempengaruhi cara berpikir dan dasar pemahaman bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain di sekitar kita dengan sewajarnya dan sama dengan bagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh orang lain? By the way, what common for you, doesn’t always means common for me. I do really try so hard to understand that and the person, also.

Jika saya ingin berbicara panjang kali lebar tentang sejarah peradaban manusia. Saya akan dengan senang hati menjelaskan, bahwa bangsa-bangsa di benu Asia memiliki kemajuan di berbagai bidang ilmu sudah sejak beribu tahun lalu. Tapi, saya sedang „plain“. Orang Jerman bilang, „Im Moment bin ich flach.“.

Hmmm dari balik jendela saya melihat langit sedang senang hati. Cerah. Hmmm. Let’s make our day brighter than yesterday.


Selamat berakhir pekan. Happy weekend. Schoenes Wochenende. Tylikke Weekend.


Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s