Biarkan Kami Tertawa

Pengalaman memang guru terbaik. Pasti banyak yang pro dan kontra dengan kalimat tersebut. Tapi saya memang tipe orang yang selalu belajar dari pengalaman.

….

Terinspirasi dari tulisan mbak Lessy dan tentunya pengalaman saya sendiri selama ini. Sebenarnya saya malas-malasan untuk menceritakan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan Xenophobia, karena menurut saya semua kembali kepada pribadi masing-masing dalam merespon hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Tapi, akhirnya saya tergelitik juga setelah membaca blog-nya mbok Lessy.

Kejadian sabtu sore lalu hanya salah satu dari sekian banyak kejadian yang saya alami dan yang menunjukkan, bahwa penduduk asli di negara ini masih belum bisa menerima kehadiran para penduduk pendatang di sekitar mereka. Saya paham, yang namanya proses adaptasi dan asimilasi tidak gampang bagi tiap orang untuk dilakukan dalam waktu singkat, karena saya selalu mencoba berpikir positif, bagaimana jika saya yang berada di posisi mereka.

Kejadian pertama terjadi pada saat berlangsungnya acara 17-an kecil-kecilan di KBRI Denmark. Cuaca cerah dari pagi hingga sore alhamdulillahnya. Banyak perlombaan yang diselenggarakan di halaman samping KBRI. Ada lomba bakiak, lari karung, bawa kelereng pakai sendok digigit di mulut, memasukkan paku ke dalam botol, lempar bola ke dalam ember dan lomba menggambar. Sedangkan perlombaan yang absen adalah lomba tarik tambang, lomba makan kerupuk dan lomba panjat pinang.


Mix Team

Kalau perlombaan yang terakhir itu yah wajar saja menurut saya. Lagipula dimana mencari pohon pinang yang boleh dan bisa ditebang hanya untuk lomba sehari. Pinangnya ada di Kopenhagen ini, tapi … letaknya di dalam Museum Sejarah Mesir Kopenhagen. Hahahaha!


Nah, saat akan dimulainya lomba, para panitia ternyata kurang persiapan, sehingga ada beberapa orang dewasa yang membantu memasang perlengkapan perlombaan. Tiba-tiba saya perhatikan dari pinggir arena, ada seorang kakek, yang saya yakin berkewarganegaraan Denmark, mengkritik panitia yang lagi sibuk ini itu. Saya lihat, dia mengkritik seberapa jauh jarak untuk melempar bola dari tali pembatas di rumput sampai ke ember. Memang, saya pikir juga terlalu jauh bagi anak-anak. Nah, dimulailah protes memprotes. Jadi, di sebelah kanan saya, duduk bli Anom dengan keluarganya. Kami duduk di tikar yang disediakan KBRI bagi tamu yang ingin menonton. Hadeuhhhhh. Bli Anom kelihatannya mulai panas, karena ternyata bukan saya saja yang memperhatikan si kakek mengkritik kinerja panitia yang hanya segelintir. Dari tempat duduk, bli Anom memanggil-manggil si kakek. Tapi si kakek sepertinya tidak mendengar. Saya yakin karena jarak antara mereka yang berseberangan dan begitu banyak orang di halaman dan cukup ramai. Akhirnya bli Anom bangkit dan nyamperin si kakek. Sepertinya mereka berdebat. Kemudian bli Anom duduk kembali di sebelah saya, sambil ngedumel tentang si kakek dan kritikannya ke panitia. Beliau bilang, kalau kita bukan panitia, ya bantu. Bukannya malah mengkritik. Dari seberang lapangan saya melihat si kakek memberi isyarat menggunakan telapak tangan kanannya dan membuat seperti mulut bebek yang banyak bicara. Duh! Betapa tidak sopannya si kakek. Saat itu juga saya melirik ke arah Lars. Ternyata dia juga memperhatikan apa yang terjadi antara bli Anom, temannya bermain bulu tangkis setiap jum’at malam dengan bapaknya. Kelihatan kekecewaan di wajahnya atas kedua orang dewasa yang berdebat. Saya tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di antara Lars dan bli Anom kedepannya. Tapi, saya yakin, pasti ketidaknyamanan itu ada di antara mereka. Syukurnya mereka laki-laki, saya pikir. Kalau itu terjadi dia antara wanita. Hmmm. It’s going to be a long argument. Anytime anywhere.

Yang pakai baju putih itu putrinya Lars

Kejadian kedua terjadi pada hari yang sama di bus yang kami naiki menuju pusat kota. 4 orang teman saya, saya, tante Margit, Mark dan Martin berada di dalam bus yang sama. Hanya saja 2 orang teman ada yang duduk di bangku belakang, seorang lagi duduk di bagian tengah, saya dan yang lain berdiri, karena tidak begitu banyak tempat duduk yang tersisa. Ada yang kosong, tapi dikhususkan bagi manula. It’s forbidden seats for young people! Kemudian seorang teman saya, Yani, tante Margit dan anak-anaknya bercanda dan tertawa lepas. Pada saat mereka tertawa itulah, tanpa sengaja saya melihat 2 orang nenek yang duduk di dekat mereka berdiri menggeleng-gelengkan kepala mereka, sambil saling menatap dan tersenyum merendahkan ke arah teman saya, tante dan anaknya. Ah. Dalam hati saya langsung merasa miris melihat mimik wajah mereka itu. Memangnya ada yang salah dengan orang yang tertawa lepas secara bersama-sama di dalam bus? Memang, tertawa juga bisa mengganggu ketenangan dan kenyamanan penumpang yang lain. Tapi menurut saya dan orang lain yang berada di dalam bus tidak ada yang keberatan. Tidak ada yang mengeluh dengan tawa mereka. Saya ingat, tante yang tertawa paling kencang saat itu. Jadi saya tertawa geli saja di dalam hati. Si tante sudah seperti orang Indonesia saja kalau tertawa. Lepas. Begitu juga dengan anak-anaknya. Saya bisa melihat mimik wajah kedua nenek itu, karena saya berdiri agak jauh dari mereka semua, saya memakai kacamata hitam dan tidak banyak bicara akibat saya mulai merasa tidak enak badan. Jadi sepertinya 2 nenek itu tidak memeperhatikan saya sebagai orang asing berambut hitam dan kecil. Mereka turun sebelum kami.

Mungkin, bagi kebanyakan orang tidak akan menggubris, cuek, tidak peduli, menganggap angin lalu, dan sebagainya. Tapi bagi saya, jika ada 2 kultur bersinggungan, hal-hal yang kita anggap sepele bisa menjadi penyebab sesuatu yang fatal terjadi. Jika kedua kultur itu tidak membuka pikiran dan menerima kelebihan atau kekurangan satu sama lain.

Saya jadi teringat dengan kejadian yang membuat saya mulai membuka hati dan pikiran kepada banyak hal, yang berkaitan dengan xenophobia.

Saat saya masih menjadi Au Pair di kota Freiburg im Breisgau, suatu sabtu sore kakak kelas saya di Unimed dan saya berniat ke toko Asia di stasiun utama. Nah, pada saat akan menyeberang, kami melihat ibu-ibu orang Jerman yang rumahnya pernah jadi tempat kos seorang teman saya dari Bogor. Dia mendapatkan beasiswa S2 jurusan Kehutanan. Saya spontan mengatakan ke kakak kelas saya itu, „Pergi aja, yuk? Cuekin aja dia. Dia udah gak baik ke Jaya.“ Tapi, tak saya duga. Kakak kelas saya itu menarik tangan saya dan menyusul di ibu tersebut. Kemudian dengan riangnya dia menegur ibu itu dengan ramah dan tersenyum dari hati. Sambil menunggu lampu hijau muncul di seberang, kakak kelas saya mengobrol dengannya. Akhirnya kami berpamitan, mengucapkan salam dan menuju arah yang berbeda. Kakak kelas saya bilang, „Biarlah dia yang kasar dan tidak ramah ke Jaya dan ke kita, Wi. Tapi ada baiknya kalau kita tidak begitu ke dia. Kita tunjukkan bahwa kita masih sopan menghadapin orang-orang yang kasar ke kita dan inilah kita orang Indonesia.“ Astaghfirullah! Benar-benar tulusnyalah kakak kelasku yang satu ini. Saya ingin menangis saat itu juga. Tapi mengingat kami sedang berada di tempat umum, saya tunda dululah acara menangis saya.

Satu lagi terjadi kemarin malam di tengah pusat perbelanjaan di Nørreport Walking Street. Saat saya melintas dengan teman saya. Kami melihat ada 3 orang pria berwajah khas orang timur tengah sedang berkhutbah tentang Al Qur’an. Mereka menggunakan pengeras suara. Salah seorangnya tidak berhenti bicara, sementara yang lainnya melayani orang-orang yang menghampiri. Tiba-tiba saja, dari arah kiri pundak kami, penjual bunga yang memang selalu bermarkas di tempat itu juga mulai berteriak-teriak menjual bunganya. Teman saya langsung tertawa geli dan pelan. Saya juga langsung tertawa. Saya lihat di sekeliling kami, para pejalan kaki juga tertawa geli melihat situasi tersebut. Intinya, tidak ada yang mengalah dalam mengeluarkan suaranya. Siapa yang bisa mengeluarkan suara paling tinggi, keras dan lama. Sebenarnya saya miris, tapi apa hendak dikata. Satu hal yang benar-benar membuat saya heran. Ini pertama kalinya saya melihat kejadian seperti itu. Dimana ada muslim yang berkhutbah di tempat umum dan terbuka begitu. Di benua Eropa pula! Atau mungkin saya saja yang belum pernah melihat di tempat lain di benua ini, ya. Hehehe. Saya sering melihat di Jerman para pendeta di jalan-jalan pusat perbelanjaan atau orang-orang yang menawarkan informasi tentang kekristenan di tiap stasiun kereta api kecil di kota Freiburg im Breisgau dan Hamburg. Apa yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah para akhi itu diizinkan pemerintah kota Kopenhagen untuk melakukan khutbah di tempat umum?

Memang, alangkah naifnya saya, jika mengharapkan setiap orang dapat menghadapi orang lain yang tidak sependapat dengannya dengan cara yang sopan dan santun. Tapi tiap kali saya melihat kejadian seperti yang saya ceirtakan di atas, saya selalu teringat kembali dengan apa yang terjadi saat saya bersama kakak kelas saya sabtu sore itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bisa memaksa hati dan pikiran untuk lebih terbuka, sopan, santun dan memberikan senyum yang tulus.

Acara bagi bingkisan khusus untuk anak-anak. Si Mark manyun, karena isi bingkisannya cemilan untuk anak-anak.


#masak Indomie kuah dulu nih utk mkn siang



Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s