Sahabat, dimanakah dirimu?

Apakah do’aku dikabulkan?

Setengah jam yang lalu burung layang-layang itu berputar-putar di luar jendela besar ini. Dari dalam hati aku mengusir mereka. „Pergi!“ Jangan undang hujan turun di sini hari ini. Aku sudah merindu sinar mentari. Demi Tuhan! Pergi!

Selama ini aku memiliki kepercayaan, alam memberitahu akan turun hujan, seandainya kau lihat burung layang-layang beterbangan ke sana kemari dengan riangnya. Semakin banyak tiap detiknya. Mungkin hanya imajinasiku.

Ah, sekarang awan kelabu itu kembali lagi. Melintas di depanku, seakan hanya ingin menyapa dan … berlalu. Syukur, dari balik awan kelabu masih ku lihat sinar mentari, meski masih malu-malu. „Ku mohon, sinarilah semua bentuk kehidupan hari ini.“

Alhamdulillah. Sinarnya semakin ku rasakan di kulitku.

……

Entah mengapa beberapa minggu belakangan saya mulai mengkhawatirkan seorang sahabat saya. Kami sudah seperti saudara kandung. Curhat. Menangis. Tertawa. Spend the weekend nights in bed. Sharing everything. Mulai dari yang tidak penting, sampai mengobrol tentang visi dan misi ke depannya. Bah! Pacar saja tak punya. Setahun lalu. Double Jomblo. Judulnya, tuh.

Bukan pertemanan setahun dua tahun. Tapi kami sudah saling kenal mulai dari bangku SMP. Sampai sekarang masih tetap menjaga hubungan.

Tapi mengapa saya semakin merasa, dia menjauh. Dari saya. Dari teman-teman. Bahkan, dari keluarga. Terakhir kali kami ngobrol via online chatroom sekitar sebulan lalu. Dia kabari saya, dia akan menikah insyaAllah setelah Idul Fitri. Ahhh… saya langsung terharu dan menangis di saat itu juga. Apa sebab sampai saya langsung menangis? Seorang sahabat saya yang lain menceritakan mimpinya ke saya seminggu sebelumnya. Dia bermimpi, kami berjalan bertiga, tapi dia sedih di dalam mimpinya, karena sahabat saya yg akan menikah dan saya berjalan terlalu cepat, seperti meninggalkannya di belakang. Dengan setengah bercanda, saya bilang, mimpi itu ada benar dan tidaknya. Ada makna di setiap mimpi manusia. Mimpi bukan sekedar cerita kosong di otak saat kamu tak sadar. Mungkin, kamu khawatir kami tinggal nikah duluan, saya bilang. Spontan kami berdua tertawa! Ya Allah, darimana asal kata-kata itu, sampai terucap dari bibir ini? Dan, memang terjadi. Sahabat saya itu akan menikah.

Senang, bahagia, sedih dan syok. Semua campur aduk jadi satu. Mengapa? Saya pernah mengatakan kepada sahabat saya itu. Bertahanlah di sana, Din. Hidup merantau itu memang tak akan pernah mudah. Apalagi ini pertama kalinya buatmu. Mana tahu dapat jodoh di sana. Lagi dan lagi, saya seperti berdo’a untuknya agar dapat jodoh di sana. Apakah do’a saya dikabulkan Allah? Wallahualam.

Tapi mengapa tak ada kabar darinya?

Sampai 2 hari yang lalu, saya berpikir untuk mencoba langsung menelponnya dari sini. Saya coba 3 kali untuk menelponnya. Masuk. tapi mengapa tak diangkat juga? Mailbox. Ach, kesal di hati. Akhirnya saya sms dan tidak juga dibalas. Akhirnya saya tanya sahabat saya yang lain. Hal yang sama terjadi pada mereka. Ada yang mengatakan, „Lu tau, telpon gw bkn dia yang jawab, tapi calonnya. Itu juga nomornya gak ada dan pas dia tlp balik, nomornya gw gak kenal. Gw angkat, tapi gak dijawab. Gw cuekinlah!“. Nah, saya tanya sahabat yang lain lagi. Dia bilang, “ Udah aku sms, Wi. Tp kok yg balas pacarnya? Dia blng, hp Dini dipinjam dia, tp nanti pesan aku disampaikan ke Dini.“ What?!

Saya mulai berpikir dan yakin, calon suaminya itu TERLALU posesif dan protektif. Dia pernah bilang, dia gak bisa mengakses Facebook sembarang waktu dan kalau ngobrol dari Yahoo Messenger juga curi-curi waktu. Saya sadar, jejaring sosial menjadi salah satu alasan terbesar penyebab keretakan hubungan seperti apapun itu. Baik di dalam rumah tangga, maupun dalam pertemanan. Bahkan telepon selularnya ikutan dibajak??? Tapi, bukankah kebebasan pribadi untuk bersosialisasi adalah hak asasi manusia? Saya bukan manusia yang banyak bicara basa basi. Jadi itu saja yang menjadi pertanyaan saya. Astagfirullah! Saya sampai berpikir, masih berpacaran saja sudah seposesif dan seprotektif it
u, bagaimana nantinya setelah menikah? Oke, saya pikir, masuk akal dan memang harus disadari masing-masing, jika sudah berstatus menikah. Sampai terucap dari mulut saya, „Din, susah x sekarang kalo mau hubungi, ya? Dwi telepon 3 kali dan masuk kemarin siang waktu Denmark, tapi kenapa gak juga diangkat?“ Tidak juga dibalas. Akhirnya saya menyerah. Usaha terakhir saya menghubunginya, adalah dengan menghubungi adiknya yg kedua di Medan via
Facebook dan … juga belum dibalas.

Hanya Allah yang tahu. Sekarang, saya hanya bisa berdo’a untuknya.

Satu, yang selalu lupa adalah, bahwa setiap manusia berubah. Saya juga. Namun, ada banyak hal di dalam diri saya yang tidak ingin dan tidak akan pernah saya rubah. Itulah saya. Saat teringat kealpaan saya itu, hanya Astagfirullah yang terucap.

Nobody’s perfect. Now, I just can wait.

….

Alhamdulillah, cuaca lebih cerah dan berawan. InsyaAllah tidak hujan. Shall we go out today?

Ah… itu beberapa menit yang lalu. Mengapa sekarang langitku kelam kembali?

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s