Uncategorized

Cinta Seorang Ibu

Tadi sore pas saya mau mandi, saya yang di ruang makan mendengar sepupu saya yg paling kecil, Isal, bicara pelan dengan si teteh. „Teh, ada uang berapa gitu untuk pangkas rambut Isal?“ Hmmm, sepertinya ada yang disuruh gurunya pangkas. Saya yang dengar dari ruang makan dekat dengan mereka jadi mikir, apa pakai uang saya aja dulu, ya. Tapi saya belum bicara apapun ke Isal. Sepertinya mendesak, karena udah maghrib baru dia bilang. Dari caranya bicara dan minta uang ke si teteh, sepertinya dia panik. Isalnya udah mandi dan panik ke sana kemari. Ternyata kata si teteh, dia disuruh paksa hari ini juga. Besok diperiksa gurunya. Masalah lain muncul. Dia perlu teman buat temani dia ke tukang pangkas dan dia maunya sama suami si teteh, yang ternyata sampai habis maghrib suami si teteh, mas Mardi, blm pulang. Saya tanya apa si teteh bisa, tapi dia bilang gak mungkin bawa2 Dika, anaknya ke salon langganan mereka dekat rumah malam-malam. Saya pikir ya bener jg. Apalagi Dika terbilang rewel klo gak sreg di hatinya, kecuali saya becandain. Tapi ya namanya anak balita, emosinya lebih berkuasa dari logikanya. Dipastikan dia akan ngamuk karena mengantuk dan biasanya memang seharusnya dia tidur. Jadi, gak ada orang lain di rumah selain saya yang bisa temani Isal. Ya sudah, saya blng saya aja yang temani Isal, tapi setelah saya selesai mandi.

Kemudian berjalan berdua ke salon, tapi tiba-tiba muncul kak Terry, tetangga depan rumah jalan di belakang. Ternyata dia mau ke Indomart. Jadilah barengan jalan ke depan. Nah, di jalan Isal mulai buka suara, karena saya tanya kenapa dia harus pangkas rambut hari ini juga, malam ini juga. Ternyata ktnya si guru yang maksa. Memang kalau diperhatikan rambutnya harus „dirapikan“, bukan dipangkas habis. Tiba-tiba dia mulai ngomong, „Mama sih gak ada trus. Isal kan susah mau bilang ini itu. Sibuk pergi dengan Kiki trus. Mau pangkas dengan mama, mama pergi trus.“ Deg! Saya terdiam. Dia rindu mamanya. Saya gak bisa bilang apa2, kecuali menenangkan dia dengan elus-elus kepalanya. „Ya udah. Sekarang ada k’Putri di sini. Tinggal ngomong. Klo kamu gak ngomong ke siapapun secepatnya, gak akan ada yang tau. Tinggal bilang aja ke k’Putri, ok. Sip?“ Hadeeuhhh! *tepok jidad* Bicara sama anak SMP ky‘ bicara dengan sebaya aja. Alhamdulillah, sampai hari ini setiap kali saya bicara dengannya, becanda atau serius, dia paham dan sepertinya memang harus begitu bicara dengannya. Asal dikasih pengertian dan alasan kenapa begini begitu. Dia lebih pake logika sepertinya. Gak gampang terima apapun yang dibilang orang lain, bahkan mamanya sendiri. Malah saya terkadang yang bengong bicara dengannya. Hehehe……

Udah pangkas, rapi. Isal tenang. Kerjain tugas sekolahnya dan tidur.

Sebenarnya waktu dia mengeluh tentang mamanya (bujing saya) yang jarang ada di rumah saya pengen banget meluk tapi harus cepat ke salon…. Bujing saya sibuk, karena harus menjadi manager utk sepupu saya yang aktor dan penyanyi cilik. Jadi, mau gak mau harus menemani anak keduanya kemana-mana. Si kak Cut Helena, masuk pesantren lagi. Bisa dilihat, dia gak punya teman, selain si teteh, mas Mardi dan Dika, yang dipanggil Isal „teman sejatiku“. Papa mereka wafat sekitar 6 tahun lalu di rumah sakit, karena serangan jantung di rumah pas mau berangkat kerja.

Cinta dan sayang seorang ibu memang gak ada yang bisa gantikan, ya. Meskipun terkadang seorang ibu terkesan mengekang anak-anaknya dengan cintanya. Tapi, si anak tetap saja lebih membutuhkan ibunya, daripada ayahnya. Selama ini, saya gak pernah mendengar Isal menyebut2 almarhum ayahnya. Saya pernah bertanya ke si teteh sebulan yang lalu, gimana Isal di rumah. Teteh bilang, dia itu lebih disiplin, berani, bertanggungjawab, dari kakak dan abangnya. Dalam segala hal. Pasti karena dia harus mengerjakan semua sendiri di rumah. Les berenang kemarin sore, dia lebih memilih naik angkot daripada naik ojek. Lebih hemat, katanya. Saya salut dan kasihan juga pada saat yang sama.

Also, ich sollte meine Mutter sofort anrufen …. (hab dich immer Lieb).

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s