Skipped Moments – Saat Yang Terlewati

Tadi kedua kalinya saya menonton Limitless. Satu hal yang membuat saya teringat akan kejadian yang dialami Eddie Morra, juga pernah saya alami sekitar 15 tahun lalu. Suatu kejadian yang sebenarnya sangat ingin saya lupakan. Sampai saya pernah berdo’a, semoga saja saya kehilangan ingatan tentang kejadian itu, karena saya memang tidak mau berusaha untuk mendapatkan informasi atas apa yang terjadi pada saat itu. Kejadian yang sangat membuat saya gerah sampai detik ini, secara perlahan tapi pasti. Di satu sisi saya ingin sekali mengetahui apa yang terjadi pada saat itu, karena entah bagaimana saya tidak ingat sedikitpun akan apa yang terjadi. Sedikitpun. Menyedihkan, ya? Ada orang yang sangat ingin mengingat kejadian yang mungkin bagi kebanyakan orang ingin dilupakan. Tapi selama 15 tahun lebih saya tidak ingat apapun tentang kejadian itu. Karena itu bukan kejadian yang seorang manusia lupa, tapi bisa berusaha atau diusahakan untuk dapat diingat kembali. Mungkin malah dianggap tidak penting dan diabaikan, atau diikhlaskan saja, kalau kejadian itu sudah terjadi dan mau diapakan. Tapi tidak bagi saya, sepertinya.

Apakah pada akhirnya, semua akan terbuka dengan atau tanpa persetujuan manusia. Mungkin kehendak Sang Pencipta?

Saya ceritakan kembali sedikit tentang apa yang dialami Eddie Morra di dalam film Limitless. Di dalam Limitless Eddie Morra mengalami beberapa kali skipped moments. Artinya, Eddie tidak ingat bagaimana bisa dia berada di suatu tempat tanpa mengingat perjalanannya untuk menuju tempat tersebut. Dia tidak ingat, bahwa dia sudah membunuh seorang wanita di sebuah hotel. Mungkin hal-hal yang dialaminya hanya ada di dalam film tersebut. Tapi, saya tahu benar bagaimana rasanya kehilangan ingatan, momen, memori, atau apapun istilah untuk menyebut “sesuatu” itu tanpa diinginkan. Skipped moments adalah kejadian-kejadian yang telah dilakukan oleh tubuh manusia, namun dengan absennya kesadaran manusia. Bagaimana mungkin seorang manusia tidak ingat atau menyadari segala sesuatu yang telah dilakukannya dengan sadar? Atau mungkin pada saat melakukan tindakan tersebut, hanya soul saja yang sedang tidak berada di tubuh? Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya secara tepat. Menurutku, pada saat hal itu terjadi, tubuh melakukan tindakan yang diperintahkan otak dengan semestinya, tapi yang namanya “jiwa” sedang tidak berada di dalam tubuh. Jadi, seperti tubuh yang beraktifitas tanpa adanya atau bisa juga disebut “tak berjiwa”? Jujur, saya tidak tahu harus mengatakan apa atas kejadian tersebut. Seringkali saya hanya bisa terdiam saat mengingat kembali kejadian tersebut.

Apa yang saya alami? (Sebenarnya saya tidak ingin menceritakan ataupun mengingat kejadian itu kembali, dan saya terus mencoba untuk menutupi, bahwa kejadian itu pernah terjadi, sebab karenanya hubungan saya dengan beberapa orang terdekat saya menjadi tidak baik, meskipun setelah saya pikir kembali, mungkin itu adalah kehendak Tuhan, agar apa yang saya rasakan dan pikirkan dapat terucap?)

Pada hari pertama saya ke sekolah, 2 orang teman sekelas saya membantu menuntun saya ke lantai 2, karena kelas saya berada di lantai 2. Sambil dituntun mereka dan tertatih-tatih mencoba menekukkan lutut selangkah demi selangkah, saya bertanya kepada mereka. (Ya ampun! Kenapa saya melangkah seperti orang yang mengalami kelumpuhan dan baru saja bisa melangkah kembali setelah sekian tahun terbaring di tempat tidur atau hanya bisa duduk di kursi roda?!) “Kenapa kalian gak datang menjenguk aku?” Kemudian salah seorang teman saya mengatakan, “Kau ini lupa, ya?! Kami datang sekelas dengan Bu’Hanifah. Kami bawa’in kau jeruk, apel dan pir. Kau aja bicara sama kami,kok.” Awalnya saya berpikir, mungkin saya yang lupa. Tapi pada saat saya melewati pintu masuk kelas, saya bengong sendiri. Saya gak ingat apapun tentang kejadian itu!! Rasa penasaran saya semakin besar, jadi sesampainya di rumah saya bertanya kepada ibu saya, apakah teman-teman sekelas dan wali kelas saya pernah datang sewaktu saya sakit. Ibu saya menjawab semuanya benar. Bahkan mereka membawakan saya buah-buahan yang banyak. Lho?! Pada saat itu saya pikir, kalaupun teman-teman dan wali kelas saya datang menjenguk, saya pasti ingat meskipun hanya sedikit. Tidak bisa. Sampai detik ini saya tidak ingat sama sekali, bahwa saya pernah mengalaminya dalam hidup saya. Ibu saya malah mengatakan, saya mengatakan tentang kekesalan saya kepada beberapa teman saya. *WHOOPSS!! What have I done?!* Memang hubungan saya dengan kakak saya tidak pernah “baik”, layaknya saudara kandung. Kami berdua selalu saja tidak pernah sependapat atas banyak hal. Tapi masa’ sih sampai saya mengatakan hal itu ke teman-teman saya? Tahu, apa yang saya pikirkan tentang semua yang terjadi saat itu? Saya seringkali merinding sendiri, karena saya telah mengalami apa yang ada di dalam lirik lagu almarhum Chrisye, “saat mulut, tangan dan kaki bicara…”. Allah Maha Kuasa.

Setelah menonton Limitless saya bersyukur, saya tidak sampai melakukan apa yang telah dilakukan Eddie Morra, pembunuhan.

Sampai hari ini saya sudah bertanya ke beberapa orang yang tahu dan punya beberapa informasi, mengapa skipped moments itu pernah saya alami saat saya sakit. Ada yang mengatakan karena suhu tubuh saya terlalu tinggi, jadi otak saya tidak berfungsi dengan semestinya. Ada seorang teman yang mengatakan, beberapa jenis jamur di bumi ini yang dapat menyebabkan halusinasi yang tidak biasa atau seperti yang dialami kebanyakan orang. Ada lagi seorang teman yang mengatakan, mungkin otak saya terlalu penuh, jadi adalah saat yang tepat bagi otak saya untuk memutuskan, bahwa kejadian itu harus dihapus dari gudang ingatan saya, karena tidak terlalu penting dan kemungkinan berakibat buruk, jika tetap berada di gudang ingatan saya.

Dari informasi yang saya dapatkan selama setahun ke belakang, skipped moments dapat terjadi karena LSD (Lysergic Acid Diethylamide). Zat ini adalah salah satu jenis narkotika yang banyak digunakan pada tahun 70-an pada masa Flower Generation di Amerika Serikat. Namun sekarang sudah sangat jarang ditemukan di negara manapun, karena sangat mahal dan mungkin juga sudah tidak jamannya lagi menggunakan LSD. Pada banyak kasus LSD memang menimbulkan halusinasi tingkat tinggi, karena kehilangan kesadaran yang dapat berdurasi berjam-jam lamanya, tergantung dosis pemakaian. Saya juga mendengar sendiri dari beberapa teman yang adalah pecandu narkotika, mereka pernah mengalami skipped moments. Ada yang pernah menyeberang jalan dan tiba-tiba sudah berada di seberang jalan, tapi dia tidak ingat kapan menyeberang. Ada yang pernah berbicara semalaman, tapi tidak pernah ingat melakukannya. Dari yang saya baca di Google, memang yang mengalami skipped moments tidak pernah ingat kembali apa yang telah mereka lakukan saat semua itu terjadi. *Sigh…I really do.*

Ya, sekarang saya berusaha menerima semua yang pernah terjadi itu sebagai pengalaman di atas kenormalan hidup manusia saja. Memang aneh, tapi juga mencengangkan bagi saya.

*Oh ya, saya juga mengalami penglihatan (vision) seperti yang dialami Eddie. Tiba-tiba saja saya bisa melihat seseorang kadang begitu jauh, kadang begitu dekat, atau keadaan di sekitar saya seperti
berbentuk fisheye atau sebaliknya dengan mata saya, yang terkadang memang membuat jantung saya seperti akan lompat keluar dari sarangnya. Hahahahaha!*

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s