Habib Juga Butuh Teman

Jadi pengen cerita tentang keponakan saya yang baru berumur 1 tahun 3 bulan …

Kemarin sore dia menangis di ruang tamu. Entah karena ditinggal neneknya (mama‘ saya) ke dapur. Saya, yang sudah capek menemani dia dari pagi, mengajak jalan-jalan untuk main dengan anak tetangga yang seumurannya, mengayunnya sampai tidur, mencoba untuk istirahat di kamar, alias tidur. Saya mencoba tidur juga, karena dia juga tidur di ayunan. Sama-sama istirahat intinya. Gantian dengan mama‘ sebenarnya. Eh, gak tahu udah berapa lama dia bangun, saya dengar samar-samar dia menangis di ruang tamu di atas baby walker-nya. Mungkin, karena kesal dan kesepian, dia mengetuk-ngetuk pintu kamar adik saya yang laki-laki. Tapi, karena adik saya juga tidur sepulang dari kampus. Sendirian lah keponakan saya.

Haduhhhhh … saya paling gak tega kalau dengar anak kecil menangis, meskipun terkadang tough love saya lebih sering muncul. Seperti waktu dia terjatuh tiba-tiba, karena dia berjalan ke sana kemari dan gak ada rem-nya. Keseimbangan tubuhnya juga masih belum sempurna. Jadi, menurut saya wajar saja dia sering jatuh atau menabrak sesuatu, meskipun saya berkali-kali mencoba menangkapnya dengan kecepatan petir. Paling saya mencoba mengalihkan perhatiannya sewaktu menangis ke hal-hal yang lain, seperti „ehhhh lihat itu di langit ada kapal terbang. Dadah dadah cepat! Nanti hilang pesawatnya!“ …

Jadi, dengan rasa kantuk yang masih menggunung di kelopak mata, kepala dan hati, saya keluar kamar dan menyapanya. Saya tatap dia lekat-lekat dan bertanya kenapa dia sampai menangis dengan nada dan tekanan suara yang lembut, dan saya peluk. *Saya jadi heran sendiri, anak umur segitu saya ajak bicara seperti bicara dengan yang sudah mengerti dan lancar berbicara saja* Tapi, sepertinya dia mengerti yang saya tanyakan dan maksud saya. Dia tiba-tiba terdiam, melihat mata saya sambil sesekali menunduk ke bawah baby walker-nya. Kemudian saya ambil botol susunya yang sudah tergeletak di dekat sofa. Pasti dia melempar botol itu, karena kesal dan kesepian. Kemudian, saya mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memperlihatkan gambar beruang dan burung transparan yang ada di botol susunya.

Ah…intinya saya kasihan melihat dia sendirian dan gak tega ngebiarin dia sendirian, sambil menangis sejadi-jadinya dengan mulut sengaja dilebarkan selebar-lebarnya. Saya tahu benar. Kalau dia menangis karena kemauannya tidak dituruti atau ditinggalkan main sendirian, atau tidak ada yang menemani, pasti dia menangis dengan mulut yang dibuka seeeeeeeelebar-lebarnya.

Huffff … memang capek merawat anak bayi atau balita, tapi akhirnya menjadi menyenangkan.

Seperti beberapa hari yang lalu, saya menginap di rumah teman, karena kemalaman pulang dari menjenguk teman di rumah sakit. Saya gak ketemu dia pulangnya, karena dia sudah tidur malam. Eh, begitu bangun pagi, dia langsung mencari saya ke kamar dan mengintip ke atas tempat tidur saya, sambil mengeluarkan suara „a..a..a..a..a!“ Kemudian dia menciumi punggung saya beberapa kali. Pasti dia kangen.

Jadi teringat pekerjaan saya waktu masih di Jerman.

Memang benar, terkadang materi tidak begitu menjadi masalah bagi anak seumur keponakan saya ini. Dari yang saya perhatikan selama dia di rumah, tidak menjadi masalah baginya tidak punya banyak mainan, yang penting adalah harus ada orang yang setia menemaninya sampai dia tidur dan bangun lagi.

Semua orang membutuhkan seorang teman untuk menemani di saat suka dan duka, memberi pelukan, kasih sayang, pengertian dan waktu.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s