pintar = penjilat

angin kemarin sore rupanya masih saja berhembus tadi siang

tiba-tiba Frau Suci mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut dan sedikit jadi tidak respek padanya
„ini lagi satu, juga penjilat!“

*hah?! apa maksudnya, bu?*, dengan masih bengong di depan pintu.
sebenarnya aku mau ikutan titip beli mi ayam bareng mereka

syukur, ternyata salahpahamku tidak sempat berkelanjutan
soalnya, dia hanya menggangguku,
kata-katanya ditujukan untuk orang lain

awal semuanya, seorang adik kelas dikirimi sms tidak mengenakkan
dan berkembang ke 3 temannya yang lain.

isi smsnya singkat
„Kau, melvi, vina dan melda Penjilat!“
*Kau = mulya*

ououououou
ternyata sms ini yang jadi penyebab



tadi, mulya masih murung
sms itu masih bersambung
dan giliran melda melapor ke aku



„kakak mau tahu sms orang kurang ajar itu selanjutnya?“
„hari kamis ada kilat, apa kabar para penjilat?“

hohohohoho

makin jengkel ternyata si pengirim sms

kataku:
biarkan saja yang kirim sms itu, jangan digubris, toh dia yang habis pulsa, habis pahala, habis uang, habis waktu, habis hati, habis segalanya.
dia hanya iri ke kalian, karena kalian bisa dekat dengan dosen.



Mungkin, bagi sebagian orang, masalah ini (yah, aku bilang sih, ini sudah berbentuk sebuah masalah) cuma hal kecil yang sepele di dunia kampus, cepat hilang ditelan bumi dan gak penting. Tapi jika dibiarkan berlarut, mungkin akan cepat memuncak. Yang pasti si pengirim sms jadi dendam dengan 4 adik kelasku itu. Maklum saja, mereka itu dekat dengan hampir semua dosen. Bukannya mereka tidak punya kelebihan dalam belajar. Mereka itu pintar. Mungkin, ini juga jadi masalah bagi si pengirim sms. Asumsiku, dia menganggap mereka mendapat nilai dan jadi pintar, karena dekat dengan dosen. Namun, dari yang selama ini aku dengar, mereka bukan tidak berisi otaknya. Mereka pintar, rajin, giat, kompak dan toleransi pada teman-temannya.
Ini yang sering aku herankan di negara ini. Kenapa di saat seseorang ingin maju dan ternyata lebih dipercaya para gurunya, jadi dijauhi dan dianggap negatif oleh temannya?

Aku? Ah, itu sudah jadi cerita lama di masa sekolahku. Yang aku masih ingat, waktu di bangku sekolah dasar aku pernah mendengar, kalau si ketua kelas yakin, aku menyogok wali kelas dengan seloyang penuh kue bolu pandan bertabur meses warna warni, supaya dapat rangking pertama. Dasar aku! Aku buat pengumuman di depan semua teman sekelas di hari pertaman catur wulan berikutnya. Kalau mau sebut aku penyogok, bilanglah sendiri ke aku, sini, jangan bisanya ngomong dan cuma berani di belakang. Spontan semua rada ikutan sebal ke si sirik. Beraninya di belakang!

Apa aku tidak boleh menyebut diriku pintar? Dan satu lagi hal yang fatal, aku bukan tipe orang yang suka basa-basi, menjilatlah atau palah lagi itu sebutannya. Aku hanya menggunakan isi otakku dan aku tidak bermanis lidah di depan para guru itu. Apa karena aku pintar dan dekat dengan guru, terus bisa disebut penjilat?



Yang terakhir adalah saat aku masih dalam persiapan skripsi. Pernah aku dengar, kalau aku disebut „anak kesayangan Frau Siti“. Tapi lihat, kan? Sebutan itu dalam tanda kutip. Yah, aku buat tanda kutip, karena ternyata sebutan itu punya arti yang mungkin sedikit negatif, tapi aku merasa biasa saja dan cuma tersenyum mendengarnya. Maksud sebutan itu, aku anak kesayangan Frau Siti, jadi cepat siap skripsinya, cuma dalam waktu 3 bulan bisa seminar dan sidang.
Ckckckckckck. Aku hanya senyum. Perlukah menyebutku begitu? Hanya karena aku berusaha keras lebih dari mereka mulai akhir Mai sampai pertengahan Agustus, setiap hari di kampus menunggu dosen sampai kadang malam, turun naik tangga 3 tingkat berkali-kali dalam sehari, dimintain tolong ini itu, ke sana kemari? Betapa aku miris melihat orang-orang seperti itu. Sampai aku didoakan, agar dikeluarkan, karena tidak bisa menyelesaikan skripsi sampai semester akhirku.



Sekarang? Aku sudah mengenakan toga itu. Dan semua itu sudah berlalu. Aku masih punya banyak impian yang semoga bisa aku wujudkan, daripada memberikan waktuku untuk menggubris kata-kata mereka.

Life oh Life

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s