Uncategorized

Akhirnya, kameraku hilang di Bangladesh

Ternyata perlu waktu lebih dari seminggu untuk menceritakan „kehilangan“ku ini. Kenapa perlu selama itu, ya? Mungkin karena aku masih „blank“? Ya, sedikit. Sedih? Apalagi. Jujur saja, aku tak rela. Tapi apa hendak dikata. SMS yang ku baca kemarin menegaskan rasa „kehilangan“ itu.



Perasaanku hari minggu malam itu sebenarnya campur aduk. Antara membayangkan diriku mengenakan kebaya yang mana yang paling pas denganku untuk pelantikan di kampus. Setengah hati judulnya. Setengah lainnya … masih merasa aneh, heran, bingung dan penasaran.

Kenapa bisa sampai hilang? Bagaimana mungkin? Dimana? Kapan?


Kameraku hilang saat Coffee Break.

Mau menangis, tapi suasana hati juga sedang senang. Jadinya … gak jadi nangis. Kalaupun aku menangis, bukan karena harga kamera itu atau faktor lainnya. Tapi lebih karena kenangan yang telah diabadikan kamera Canon Powershot A430ku yang masih pake baterai AA isi ulang.


Marah? Hehehe … maunya. Tapi mengingat, teman dekatku meminjamnya dan aku dengan sukarela meminjamkan. Hanya sedikit rasa penyesalan yang ada.


Kenapa aku tidak membatalkan niatku meminjamkan kamera pertamaku? Bukan karena tak rela meminjamkannya sampai ke Bangladesh, tapi entah bagaimana, aku merasa (lagi lagi seperti sebuah firasat tidak baik memperingatkanku), tidak seharusnya aku meminjamkan kamera kecilku itu.

10 Nopember 2008


Sore hari itu, terakhir kali aku melihat, merasakan dan memotret dengannya adalah di Bandara Polonia. Foto yang terakhir aku ambil adalah fotoku bersama temanku, sebelum dia meninggalkan kota Medan.

Hikmah. Apa yang dapat aku ambil dari kejadian ini?

Entahlah. Sampai hari ini aku masih kangen kamu, lho.


Teman setia kemanapun aku berjalan, melihat dan mengenang bagian hidupku yang tertinggal di Jerman dan beberapa negara lain yang pernah aku singgahi.


Aku pernah melupakan kunci rumah, tapi aku tak melupakan untuk membawamu. Aku pernah melupakan baterai Canon EOS 350Dku, tapi aku malah membawamu lengkap dengan baterai penuh.


Ikhlas itu lumayan berat untuk ku laksanakan, tapi aku berusaha untuk mengambil bentuk positif dari kejadian ini. Mungkin memang ada yang lebih memerlukannya di luar sana. Mungkin kameraku itu memang tidak selamanya, untuk ku miliki




*noch … schwarz versus weiss*

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s