inilah aku

Seandainya saja kamu gak tanya, kenapa aku bisa tahu, kalau kamu akan mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan, maka …

Kenapa aku bisa tahu? Mana tahu aku, kalau aku bisa tahu. Mungkin itu hanya sebuah tebakan atau kebetulan atau bahkan do’a seorang teman untuk kamu. Ya, mana tahu, kan?

Tapi, kenapa kamu masih saja bertanya, kok bisa aku tahu.

Sedikit lupa kapan terakhir kali kita ngobrol di ruang Yahoo Messenger. Tapi sore itu, seandainya saja kamu tidak menanyakan pertanyaan retorismu, maka aku tidak perlu dengan sukarela berpusing ria, bertanya pada diri sendiri, mengapa aku bisa tahu, apa yang telah ku katakan akan menjadi kenyataan ….

Hujan di luar pintu tak berkaca itu semakin menambah kesalku saja, gara-gara pertanyaan tidak pentingmu itu. Bukannya akan lebih baik bagi kita berdua, jika kamu tidak menanyakan apa yang ada di dalan kepalamu? Anggap saja, apa yang telah terjadi padamu sebagai kado tengah tahun dari Tuhan buat kamu dan aku akan menganggap semua itu hanya teka-teki. Semua akan berlalu begitu saja tanpa perlu dipertanyakan. Selesai!

Tapi, aku sampai harus berpura-pura, kalau bukan aku yang mengatakannya padamu. Kenapa? Karena aku tidak ingin diingatkan pertanyaan-pertanyaan seperti pertanyaanmu. Karena aku ingat, aku pernah mengatakannya. Karena aku sadar, aku tahu. Karena sering, aku tahu. Tapi aku tak mau tahu dan memilih untuk tidak mau tahu, untuk seterusnya. Soooooooooo simple 😉

“Meski sedikit meleset waktunya, tapi kamu benar.”

“Lho?! Memangnya aku pernah mengatakan apa?”

“… aku dapat pemberitahuan akhir Mei, kalau aku diterima.”

(Hmmmm…jadi soal itu, toh…).

Menyebalkan juga, sedikit, saat aku mau tidak mau, “menceritakan” kenapa aku bisa tahu. Kesimpulan, sepertinya aku harus ngobrol ngalur ngidul dengan dia. Dan …. Syukurlah, akhirnya dia sendiri bosan mendengar ocehanku, mungkin.

Ada kalanya, sulit bagi seseorang untuk menjelaskan dengan logika, bagaimana dia bisa tahu, kalau dia tahu. Seringkali aku berharap, aku lupa beberapa hal yang tidak perlu diingat lagi dan seharusnya tidak terjadi. Tapi itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi, karena aku pernah membaca sebuah artikel kesehatan, bahwa sejak detak pertama jantung manusia, semua yang dialami tubuh dan jiwanya akan diingat setiap sel otaknya sampai ajalnya.

***mungkin, kamu sudah tahu, kalau aku tahu. Tapi mengapa kamu tetap menanyakannya padaku? Atau … kamu memang tidak tahu, kalau aku … ?***

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s