Hari ke 30: Tentang Mimpi, Keinginan, Harapan dan Do’a

Udah lama gak dengarin radio, jadi tadi malam coba dengarin siaran Prambors. Tapi, yang ini mungkin agak beda acaranya, nih. Di semua stasiun radio masih aja ngomongin Idul Fitri besoknya, wawancara dengan orang-orang di jalan melalui telepon. Membosankan. Kenapa? Karena hamper semua stasiun radio punya tema acara yang sama! Yang satu ini, beda.

Sebenarnya udah mau matikan walkman, tapi dari sekilas sinopsis yang si DJ bacain, kok bikin penasaran, ya? Menarik untuk didengar lebih jauh. Dan setelah didengar sampai habis, ternyata memang benar, cerita itu sepertinya ringan dan biasa banget. Biasa, dalam arti, kata ini sangat sering terjadi dalam keseharian dan nyata.

(Episode 30 Ramadhan, alias terakhir, mungkin untuk tahun ini. Soalnya, akhir cerita rada menggantung).

Ceritanya tentang (yang masih diingat) Dhana, Vano dan sepasang teman mereka yang baru jadian (sebut saja F dan sepupu Dhana). Vano ketiban rezeki di malam takbiran. Dia ditawari Rudi Soedjarwo untuk memfilmkan blognya dan menjadikan novel. Sedangkan Dhana, sedikit gundah gulana karena telepon dan smsnya untuk Dila gak juga dibalas.

Akhirnya si F mencerahkan hati dan pikiran Dhana di malam takbiran. “You have to make your own perfect ending love story”. Yang menurut aku pribadi, aku duga dan ternyata benar, menjadi 85% itu genap 100%. Tapi sepertinya masih harus menunggu sampai Ramadhan tahun depan.

Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, Dhana mencoba meyakinkan Dila tentang rasa cintanya. Dhana memaksa Dila, kalau dia harus menyusul Dila. Entah dimanapun Dila saat itu.

Meski, ini hanya sebuah cerita yang mungkin pendengarannya akan lupa dalam waktu sehari, tapi aku salut dengan tekad Dhana. Tak ada seorangpun yang tahu, bagaimana bentuk si 15% itu tahun depan.

Namun, entah kenapa, aku yakin Dhana akan mendapatkan “Perfect ending love story” versinya sendiri. Mungkin, karena memang akhir yang bahagialah yang diinginkan semua orang, kan? Apalagi menjelang Idul Fitri, yang banyak orang pasti menginginkan, bisa aja, kebahagiaan beruntun pada hari yang sama, atas beberapa do’anya selama bulan Ramadhan.

Well … we’ll see then.

Bicara tentang tekad, kemauan keras, aku pernah mengambil keputusan, yang menurutku adalah keputusan terbesar sampai saat ini. Aku memutuskan untuk pergi ke belahan lain di bumi ini. Yang sebenarnya aku jaga masih kurang mengerti, apa tujuan utama ke sana.

Ada 3 kalimat yang masih menempel di kepala sampai saat ini …

14 April 2006, 11.00 WIB. 2 jam lagi aku akan meninggalkan semua di sini. Mungkin, aku tak akan kembali … lagi.

22 Februari 2008, 03.30 GWT. 1,5 jam lagi aku akan berada dalam ICE … dan merindukan kota ini … dan semuanya.

01 Oktober 2008, 21.11 WIB. Masih, aku memiliki tekad yang sama, seperti 2 tahun lalu. Meski mungkin, kali ini entah kemana lagi.

Mimpi … ada saat kau terlelap

Tekad … ada saat kau terjaga

Harapan … dengannya kau bertekad untuk mewujudkan mimpimu menjadi kenyataan.

Do’a … namun, hanya di dalamnya kau dapat merangkaikan mimpi, tekad dan harapan, serta berserah diri … Pada-Nya.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s