mosi kurang percaya kepada …………… T

Ya ampun! Sekarang … kok aku kurang percaya pada T? Di saat seperti ini, di saat yang aku seharusnya menambah besarnya rasa percayaku kepada-Nya, kenapa malah aku kurang percaya. Entah. Mungkin karena keminusan dalam kenyataan dan pandangan mataku di sekitarku. Entah apa kata orang yang beriman lebih dariku, saat membaca isi kepalaku ini. Sulit untuk mengatakan, pasti aku percaya T, mana mungkin orang beragama tidak percaya, apalagi tidak yakin pada T. “Bisa dilaknat kamu nanti kalau gak percaya T!” … seburuk itukah mosi tidak percayaku pada T, sampai aku akan dilaknatnya? Hanya T yang tahu semua isi hati dan pikiranku. Malah, dengan menyingkat kebesaran nama-Mu saja dengan sebuah aksara “T”, mungkin aku akan lebih hina ……

“Lagian apa-apan sih, mengajukan mosi kurang percaya yang ditujukan kepada T? Kok seperti anggota DPR saja. Itu wajar, jika diajukan pada manusia, tapi kalau diajukan kepada T? ga beres kamu, Wi.” …… “Am I, B?” …… “Ya, benar. Kamu akan dianggap tidak bersyukur atas apa yang telah T berikan untuk kamu selama ini. Wajar saja, semua wujud ketidakpuasan kamu itu membuatmu mengajukan mosi kurang percaya, karena manusia pasti memiliki kekurangan. Tapi, kalau kamu sampai mengajukan mosi “tidak percaya” kepada T, hanya Dia yang tahu apa terjadi nantinya. Apa kamu sadar akan itu semua?” … “Am I that worst, B?” …

…………………………………………………………………… *in silence*.


“Kemarin sore aku ngobrol dng seseorang yang baru muncul di Chat Room dan menyapaku duluan, tapi yang pertama dia tanyakan adalah, darimana asalku dan agamaku apa. Untuk pertanyaan pertama bisa dengan gampang aku jawab. Tapi, untuk yang kedua, aku jadi sedikit terusik, jujur saja. Kenapa menanyakan agamaku? Kemudian aku bertanya, bagaimana jika agamaku tidak termasuk dari 2 agama yang kamu sebutkan? Apa komentar kamu tentangku selanjutnya? Apa obrolan perkenalan kita akan berkaitan juga dengan agamamu dan agamaku? Bagaimana, jika kukatakan, kalau aku tak beragama, tapi aku yakin akan Tuhan. Atau yang mungkin lebih parah, yang telingamu akan dengar, kalau aku tidak percaya Tuhan atau biasa disebut manusia, Atheis?” Bukannya aku tidak berkenan membicarakan agama, tapi jika kamu bertanya seperti itu, seolah2 agamaku adalah pilihanku, sebaiknya kamu tanyakan kepada kedua orangtuaku, karena menurutku, orangtualah yang pertama kali mengenalkan agama mereka pada anaknya, yaitu kita …… *Sepertinya yang di seberang sana mulai tidak bisa memunculkan kata atau kalimat di dalam kepalanya atas cernaan suara, bibir dan mulutku.* Terserah padamu, bagaimana menilaiku, tapi bukankah agama adalah sesuatu yang pribadi antara kita dan sang Pencipta? Atau dia yang sudah mulai kehilangan akal, karena aku jawabanku terlalu panjang atas satu pertanyaan simpelnya? …… hehehehe … get yourself ready for the answers, if u ask me something, ok.

*Ooops!! Mati lampu!! Haruskah aku menyalahkan manusia atau malah … T … atas kejadian ini? Hmmm …… ternyata baterai laptop masih bersisa 41 menit lagi (lumayan, di kampus sempat ngisi baterai laptop sampai penuh). Yah, cukuplah untuk mengetik “This Crap”. Wait a second! Is this only a crap???*

*Beberapa hari ini, banyak yang curhat, “Mbak, aku kenapa, ya? Kok sepertinya banyak merenung akhir-akhir ini?” …… “Dear, Bro. Bukan hanya kamu yang akhir2 ini banyak merenung dan bukankah memang sudah seharusnya manusia banyak merenung. Bukan malah banyak melamun. Hehehe. Udah dari bbrp hari ini banyak jg yg curhat ke aku, merenung ttg banyak hal. Ada yang soal “perut”, asmara, pendidikan dan banyak lagi. Tapi yang terbanyak mengatakan, kalo renungannya ttg kesalahan. Memang, semua orang seharusnya merenungkan setiap perbuatannya, bukan hanya utk dunia, bahkan akhirat. Kamu akan membuang sesuatu sembarangan saja, bukan lagi dipikirkan, tapi renungkan akibat yang berkepanjangan.”*

Sedang aku sendiri? Hmmm … sepertinya aku harus lebih mengontrol segala bentuk kemarahan di hati dan pikiran. Kata mbak Yeyen, inhale and exhaleeeeeeeeeeeeee, wi. Hmmmm …. Tengkyu so muachhh, mbak. Meskipun rada gimana gitu untukku, gak ada salahnya mencoba, kan?

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s