Birokrasi Sialan!

Maaf, bagi anda yang berada di dunia Birokrasi, tapi ini adalah wujud kekesalan, kekecewaan dan keresahan saya sebagai yang harus berurusan dengan birokrasi di negara ini, pada bagian yang lebih kecil adalah di Universitas. Saya tahu, akan sangat tidak adil menyamaratakan semua individu pada birokrasi, seperti banyak individu yang berada di Universitas Negeri Medan, tapi di luar tempat ini, sepertinya SAMA SAJA, sebab saya juga pernah berurusan dengan birokrasi di tempat lain di negara ini dan sangat MENJENGKELKAN!!!

1. Dari yang saya perhatikan, seorang Pegawai Negeri Sipil yang posisinya sangat vital karena tanda tangannya (iya, saya hanya butuh tanda tangan Bapak yang sangat penting untuk mengurus berkas kelulusan saya dari Fakultas dan Universitas ini), malah tidak berada di tempat saat dibutuhkan. Apa ini sosok seseorang yang punya posisi penting dan tahu betul kalau posisinya itu sangat penting?

2. Seorang pegawai bagian pendataan di Ruang Baca/Perpustakaan Fakultas, karena “merasa” sangat membutuhkan uang untuk keegoisannya sendiri dan tanpa merasa bersalah akan kebiasaannya “mengemis” dari mahasiswa, malah menghilangkan berkas yang sangat kubutuhkan dan tidak mengaku, kalau dia yang telah menghilangkan, malah saya yang dituding tidak menyerahkan kertas selembar itu, yang menurutnya, kemungkinan besar saya memang lupa menyerahkan ke dia. APA??? Ingatan di otak saya masih sangat segar dan saya yakin telah menyerahkan, karena apa? Karena saya telah membuat kopian dari data yang asli dengan rangkap 2. Dengan kata lain, yang asli harus saya pegang (kata si Ibu sih gitu. Dia gak perlu yang asli, hanya perlu yang kopian) dan yang kopian satu lagi saya juga pegang, karena setiap mengurus berkas saya pasti membuat kopian berlebih satu (hanya untuk mengantisipasi akan terjadinya kesialan seperti yang saya alami sekarang) karena kertas selembar itu diperlukan untuk mengurus berkas-berkas yang lain. Sekali, saya masih bisa menahan emosi, hanya untuk melihat, apakah dia mau mengeluarkan surat keterangan lanjutan atau tetap bersikeras dengan vonisnya ke saya. Kedua kalinya, maaf!!! Kesabaran saya ada batasnya dan saya tanyakan, apa saya harus bertanya ke Pembantu Dekan I untuk tetap mengeluarkan surat keterangan tersebut dan memberikan tanda tangannya ke atas surat tersebut. Maka kemudian saya melapor ke PD I dan menjelaskan semua yang telah terjadi, sampai harus dengan sedikit kengototan saya beradu dengan mosi tidak percaya si PD I, “Jadi, yang menghilangkan surat itu kamu atau dia?” … tanpa berpikir panjang lagi langsung saya tegaskan, “DIA, madam!!!”. Dan akhirnya, untuk ketiga kalinya, baru besok paginya saya bias melapor lagi ke Ruang baca dan mengatakan, bahwa dia tetap harus mengeluarkan surat tersebut, karena saya sudah melapor dan bertanya sendiri ke PD I. Menyebalkan!!! Dengan wajah sedikit kecewa, dia akhirnya mengatakan, “Ya sudah, kalau gitu kamu datang lagi besok pagi kira-kira jam 9, tapi jangan lupa “UANG CAPEK” saya, ya.” Mann e!!! Richtig bescheuert!!! Ist das alles in diesem Land immer mit Geld zu tun???

3. “Bunda, Pak Dekan ada? Saya perlu minta tanda tangannya segera, kalau gak wisuda saya bisa digeser ke April, karena berkas terakhir untuk stambuk saya hari ini harus diserahkan ke pusat.” …… “Wah, Dekan ke Birek dan entah kapan baliknya, tapi coba aja kalian balik lagi jam 2an, gitu.” ………… jam 2 balik lagi … “Waduh, Dekan kaya’nya gak balik lagi, deh. Coba susul aja ke Birek” …… “Madam (PD I) … saya mau tanya sesuatu … (blablablablabla)” … “Oh, coba aja kamu sekarang ke Ruang Sidang Lt.3 … dia masih di atas.” … “Merci beaucoupe, Madam” …………………… .

Ternyata Dekan gak di Birek … kata salah satu peserta Sertifikasi, dia udah pergi/pulang/balik ke fakultas … (I was … really really sigh …).

“Bunda … Dekan gak balik ke kantornya?” … “Gak ada, dan sekarang udah waktunya pulang kantor. Besok pagi aja kamu balik lagi.”

4. Besoknya … “Makasih ya, Bunda ………” …… ke ruangan lain … dari jam 10 pagi untuk meminta tanda tangan terakhir dari Tata Usaha! Ternyata si bapak (lagi dan lagi tidak di tempat!!!) … ditambah lagi diminta keluar
ruangan dulu, karena alas kaki saya tidak membuat saya cukup layak untuk dilayani di ruangan itu. “Kamu stambuk berapa? (2001, pak). Oh, udah mau DO, dong? … Iya, Pak, karena saya cuti 2 tahun (dan bukan cuti melahirkan atau yang lain2, tahu!!! Tapi aku ke Jerman juga untuk belajar!) … Kamu udah baca pengumuman di luar? … Pengumuman yang mana, Pak? Di sini tidak akan dilayani, kalau pake sandal. … (emangnya sandalku kenapa? Sepertinya yang mahasiswa yang keluar masuk dari tadi ke sini juga sandalnya gak lebih baik dari punyaku. Gimana sih buat peraturan???!!! *SABAR SABAR SABAR* … hehehe … sepertinya kesabaranku teruji hari itu. Apakah saya akan mengamuk? (Ooops!! Karena ini di negaraku, bisa saja aku mengamuk, tapi pasti halus ngamuknya, tapi males ah, ngabisin tenaga aja…tapi ya itu juga, sepertinya perlu sesekali mengeluarkan kekecewaan pada pihak yang telah bertindak semena-mena ini). Akhirnya gak jadi ngamuk … malah keluar dan duduk di tangga selama 3 1/2 jam lebih itu … yup, selama itu aku harus menunggu Bapak yang tanda tangannya penting itu, lho. Dalam menunggu, saya masih terus berpikir, bapak ini kemana, sih? Apa dia istirahat? Toh dia puasa? Pulang? Untuk tidur? Masa’, sih? Yang bener? …… apa aku harus ke Perpus Umum dulu sambil nunggu dia? … tapi kalau dia datang, trus aku gak di sini, trus dia ngacir ntah kemana? Aku ngejar lagi …… trus trus trus trus … aaaarrrggghhh!!! Bagusan di sini, tunggu sampai dia datang. Insyaallah urusan di Perpus Umum gak seribet ini (dan ternyata memang tidak, Alhamdulillah).

5. Giliran di Tata Usaha Jurusan sendiri, “Kamu coba ke sana dulu, Tanya, apa sanksi bagi yang terlambat menyerahkan berkas dan minta buku Ekspedisi ke Pak X atau ke Pak Y.” ……… “Lha?! Bapak ngerjain saya apa gimana? Bukannya saya sendiri yang harus mengantar ke sana, bapak bilang kemarin??? Dan saya juga udah janji ke kepala BAAK, kalau saya yang akan mengantar sendiri berkas saya!” … (Ya Allah, kenapa harus begini hanya untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan di Universitas ini????!!!) … “Artinya saya gak terlambat dong kalau gitu?” … “Ya … soalnya ibu yang prodi Perancis itu juga terlambat dan buku ekspedisinya belum ada sama saya.” … “Ya udah deh, Pak. Saya gak mau aja ntar saya di DO hanya karena berkas terlambat atau wisuda saya digeser ke April. Danke.” …… Eh …… dianya malah senyum2 aja … kok beneran kaya’ ngerjain, yak? Soalnya rada ragu juga, nih ………

6. Satu lagi catatan gak PENTING banget! KAN INI PUASA, jadi pulangnya cepat … besok aja kamu datang lagi. ……………………………… PARDON???!!! Hanya karena puasa, yang lainnya “disepelekan”??? Duh!! Gimana sih ini??? Bukannya semangat bisa mengalahkan nafsu ataupun kekalahan tubuh???

After all those predictable silly things … all becomes in one and I can’t hold it … anymore ………… tired, piss off, disapointment, the weather too warm, bad healthy today, anger, … it’s just … all. I couldn’t even speak no more. Just … cry …

Ya Allah, belum pernah aku sekalut ini di hati dan pikiran …… aku bahkan gak bisa dan gak mau bicara lagi … sampai tidur … war schon schwachsinn … keine Ahnung, mehr.

Aku hanya … .

Akhirnya, tadi pagi aku ngobrol di dunia maya dengan mbak Icha … mbak, makasih atas wejangannya … “Kamu pasti mendapatkan yang setimpal atas usahamu ………… Kapan kamu pakai toga?” … itu kira2 yang masih nyangkut di otakku. Hehehehe … dia juga kasih dikit ilmu komunikasi ke aku, untuk berhadapan dengan orang lain JJJJJ Danke sehr, mbak!

Bicara soal toga, pelantikan dan wisuda … I don’t really care of it. “But our parents do, dwi” … yeah, I know that exactly, but … many friends don’t have that day and still alive. Yang membuatku harus ikutan pakai toga, hadir di pelantikan dan wisuda cuma karena, gak pakai toga dan gak difoto? Bisa stress aku, soalnya berhubungan dengan fotografi J harus ikut pelantikan? Karena belum resmi sarjana, kalau belum dilantik. Ok, make sense. Kenapa harus ikut wisuda? Karena ijazah dibagi pas wisuda! Ya ampun, gimana yang terdesak butuh ijazah, karena sesuatu hal, jadi harus didahulukan pemberian ijazahnya??? Gak pake O**k banget, sih. …………………………………………………… Peraturan telah diubah, ternyata.

I really don’t need mind interruption right now …

I only need … peace … for a while …

Just … a while … …

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s