Cara Pria ? Cara Wanita ?

Asyik bongkar – bongkar lemari buku, eh dapat majalah Chic edisi tahun 2005. Di dalamnya terdapat bermacam – macam tips untuk mengatasi masalah yang sering dianggap sepele, tapi cukup menyusahkan di dunia perjenderan. Apa tanggapan pria dan wanita, saat ditanyakan pendapatnya tentang bagaimana seharusnya bersikap saat menghadapi lawan jenis dan cara berpikirnya. Penasaran? Let’s read and enjoy it.

1. Menyampaikan Gagasan

-> To the point. Biasanya langsung ke pokok permasalahan dan mengabaikan yang namanya basa basi. Dalam dunia laki – laki yang namanya mengumbar kata – kata adalah milik perempuan. Semakin sedikit yang dipakai akan untuk menyampaikan maksud akan lebih efektif.

-+ Cenderung bercerita dulu sebelum ke pokok permasalahan. Keterlibatan adalah sesuatu yang bisa dibilang punya peran, tapi bukan berarti tidak mampu atau menjadi kelemahan.

2. Menunjukkan Kemampuan

-> Pencapaian pribadi menjadi sesuatu yang sangat penting, karena bisa mengundang kesuksesan dimana saja dan mereka tidak takut jika dicap arogan nantinya oleh perempuan.

-+ Perempuan yang suka menojolkan kemampuannya malah sering kali dianggap dominan dan ambisius. Atau malah mereka sendiri yang terjebak oleh cara berpikirnya, bahwa laki – laki tidak suka tipe perempuan yang seperti itu.

3. Menghadapi Konflik

-> Umumnya tidak takut menghadapi konflik, apalagi yang menggunakan fisiknya. Jika masalah lebih cepat selesai, akan lebih baik untuk semua pihak dan akan segera mereka lupakan, begitu saja terkadang.

-+ Daripada perasaan sendiri tidak nyaman, lebih baik dipendam atau meminta bantuan dari orang yang bisa dipercaya untuk menyelesaikan masalah.

4. Ya atau Tidak

-> Menolak dengan tegas, jika tidak sanggup memberikan bantuan yang diminta oleh orang lain, terutama perempuan, tanpa memikirkan orang tersebut akan sakit hati atau pemikiran yang lainnya. Tidak jarang malah dianggap perempuan malah tidak berperasaan.

-+ Biasanya sulit untuk mengatakan “ tidak “ saat dimintai bantuan dan akan merasa bersalah dan tidak nyaman, jika tidak membantu. Makanya tidak jarang, jika “ kelemahan hatinya “ sering dimanfaatkan orang lain.

5. Emo vs Log

-> Umumnya m
ereka mengenyampingkan yang namanya perasaaan dalam menghadapi suatu masalah yang menuntut penyelesaian segera.

-+ Seringkali melakukan kebalikan yang di atas. Dianggap makhluk yang mengedepankan emosi daripada logika. Tapi jika bersikap sebaliknya, maka akan dianggap tak punya hati atau bertangan besi.

6. Tekanan

-> Dalam menghadapi tekanan, cenderung mencari pelarian yang bisa membuatnya bisa membuatnya melupakan masalah. Jika sudah merasa siap, akan kembali dan menyelesaikan pekerjaannya, tapi perempuan sering mengartikan sebagai tindakan yang sangat tidak bertanggungjawab.

-+ Dengan berbagi, beban yang berat akan terasa lebih ringan, apalagi bila ia menemukan orang yang tepat untuk berbagi. Tapi, jika orang dan tanggapan yang diberikan tersebut tidak tepat, yang terjadi bukannya lebih baik, melainkan frustasi.

7. Bersosialisasi

-> Umumnya lebih mudah membangun hubungan pertemanan daripada perempuan, karena bersikap terbuka dan apa adanya. Contohnya tidak sungkan untuk pergi kemanapun sendirian, karena yakin, akan selalu menemukan siapa saja untuk menjadi temannya.

-+ Cenderung pasif, terlihat pemilih, membatasi diri hingga mudah dicap sombong. Merasa tidak nyaman di daerah asing, makanya lebih suka berkelompok kemana – mana.

8. Suka atau Tidak Suka

-> Lebih suka mengungkapkan kesenangan atau tidaknya dengan lebih lugas daripada tedeng aling – aling. Akan dianggap tak berperasaan, padahal hanya berusaha jujur.

-+ Lebih suka bermain aman dan memendam perasaan. Kalau tidak suka sesuatu, akan menghindar dan jika sebaliknya, akan menunjukkan dukungan penuh pada apa dan siapa yang disenanginya.

Nah, meski sudah dijelaskan di atas, yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah, apa pendapat dan tindakan para pria, jika wanita di bumi ini semuanya bersikap seperti mereka, jika mereka “ kurang suka “ dengan “ keperempuanan “ dari wanita itu sendiri. Yang menurut saya lebih menarik, apabila kita juga menganalisa dunia dua jender ini, misalnya di dua bangsa dan saya ambil contoh gampang adalah antara Indonesia dan Jerman. Hampir 2 tahun saya tinggal di Jerman, sedikit banyak saya jadi tahu, bahwa segala persepsi yang ada di kepala saya mau tidak mau harus berubah tentang banyak hal dan jujur saja, itu tidak mudah dicerna dan diaplikasikan. Ungkapan yang paling pas menurut saya adalah, “ Es gibt andere Welt vor deiner Haustür. ” Singkatnya, di balik pintu rumahmu, ada dunia yang lain. Jadi, semua bisa saja kurang benar ataupun salah sepenuhnya. Yang perlu dikoreksi, mungkin hanya cara pandang kita terhadap suatu masalah, kan ? Ada yang punya pendapat yang berbeda?

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s